Halaman

Jumat, 14 Juni 2019

No More Hoax, Mari Jadi Pengguna Internet yang Baik

Hai, bagaimana acara silahturahmi Lebarannya? Ditanya apa saja selain mana calonnya? Ups. Hehe. Keluarga besar pada akur kan, tidak gontok-gontokan bahas politik? Kalau semua baik-baik saja. Alhamdulillah.

Karena di pesta demokrasi tahun ini, menurut saya super sensitif. Walaupun sudah selesai dan ada momen Ramadan, tetap saja, salah ngomong dikit, hubungan bisa jadi runyam. Apalagi banyak betebaran berita yang belum tau kebenerannya.

Entah itu hoax (berita bohong) atau berita benar, banyak aje yang share. Seakan semua berita benar. Mungkin niat mereka baik, ingin memberi tau orang lain sebuah informasi. Tapi tanpa dicek lebih detail terlebih dahulu, langsung main broadcast aje. Atau memang sudah terlalu fanatik, jadi bawaannya benci saja kalau ada yang terlihat salah.

Makanya butuh banget kesadaran kita -sebagai masyarakat yang seharusnya bisa menggunakan teknologi dan media sosial dengan baik- untuk mengecek kebenaran berita terlebih dahulu. 

Sebab, fenomena hoax yang sering terjadi, seiring perkembangan teknologi dan media sosial bisa kita tangkal atau hentikan dengan banyak cara, salah satunya adalah mencari tau kebenarannya terlebih dahulu dan menahan untuk tidak membagi ke orang lain sampai kebenarannya terbukti.

No more hoax anymore, baby. Ini waktunya jadi pengguna internet yang baik.

Sudah banyak dampak negatif dengan bertebarnya hoax yang ada di masyarakat. Mulai dari yang ringan, seperti kesal sesaat, adu argumen yang berlebihan, jadi parno, war hastag (coba deh cek trending topic twitter, terkadang saling sindir), saling memutuskan silahturahmi, bahkan yang baru-baru ini terjadi, yaitu pembatasan akses internet oleh pemerintah. Hayo, jadi banyak ruginya kan? Jangan lagi ya.

Apa yang saya lakukan untuk membantu mengurangi penyebaran hoax?

Sebenernya dari dulu sudah ada hoax, dari saya kecil malahan. Katanya kalau pake pensil kependekan di bawah kelingking bisa terjadi hal buruk atau ada manusia berkepala ikan pari, dll. Dan jangan salah loh, dulu juga penyebarannya banyak. Sampai ada cd-nya.

Nah, kebetulan saja sekarang ada internet, sosial media serta teknologi lainnya, yang bisa mempercepat suatu berita, baik berita benar maupun bohong.

Makanya itu, biasanya tiap saya dapat berita atau desas desus sebuah kabar, saya akan diam, menahan dan menenangkan diri terlebih dahulu. Lalu, saya cari tau di banyak sumber terpercaya untuk mengetahui kebenarannya. Kalau bisa saya tanya langsung. 

Misalnya nih, ada kan tuh link-link kupon gratis atau lowongan yang di broadcast teman. Sesudah mendapat berita tersebut, jika saya tertarik dengan beritanya, saya langsung cek di website yang bersangkutan atau tanya ke media sosial perusahaan tersebut. Dan biasanya, para perusahaan tersebut akan segera memberi tahu kebenarannya. 

Lalu, jika berita tersebut hoax, saya akan segera memberi tau kebenaran berita tersebut ke teman yang menyebarkan hoax tersebut. Atau jika berita itu ternyata benar, saya akan bela, jika berita itu dibilang hoax. Kan saya sudah tanya langsung, jadi bisa dibilang sudah valid lah gitu.

Namun, jika kabar yang saya terima belum bisa dicek kebenarannya, biasanya saya diam. Tidak ikut menyebarkan berita tersebut. Karena saya takut itu berita yang belum tentu benar ataupun salah. Jadi, daripada saya menyebarkan hoax, tidak jadi pengguna internet yang baik, ya saya diam.

***

Kurang lebih itu sih sikap saya terhadap hoax. Biar no more hoax. Begitu pula nanggepin berita hoax tentang diri saya. Biasanya saya diam dan berdialog ke diri saya sendiri, apa saya begitu, kenapa bisa ada berita tersebut dari saya, kan mungkin ke-trigger dari saya sendiri, dan apa tindakan saya selanjutnya. Eh apa ini? Curhat? Haha.

Saya sudahi saja lah tulisan ini, sebelum saya jadi curcol lebih panjangHaha. Pokonye, dibanding menyebarkan hoax, mending internetnya buat cari ilmu baru gengs. Sosmed-nya dipakai untuk cari duit dan teman. Oke oke?

Tonton video ini dulu lah, biar makin paham. Anak kecil saja tau, masa kalian masih saja menyebarkan atau bahkan membuat hoax. Malu ah.


Salam,


Hani, pengguna internet yang baik.

2 komentar:

  1. Yang mengherankan adalah yang sebar-sebar dan heboh sama hoax ini adalah kalangan usia menengah ke atas, alias bukan ukuran bocah lagi. Kadang abang ini terheran tak mengerti.

    -Fajarwalker.com

    BalasHapus
  2. Keterbelahan sikap, dukungan, dan pemikiran, juga menjadi sebab mudahnya menyebarkan hoax. Jadi kalau kabar yang diterima dari kelompok sendiri, biasanya begitu mudah menyebarkan ulang tanpa adanya cross check.

    BalasHapus

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)