Halaman

Jumat, 28 Oktober 2022

SeGeRaKeRS Jika Ada Tanda-Tanda Berikut Ini untuk Menghindari Efek Stroke yang Lebih Parah! #Precioustime

Precioustime

Jumát, 21 Oktober 2022 saya dan beberapa teman-teman blogger lainnya datang ke acara Temu Blogger dalam rangka peringatan hari stroke sedunia tahun 2022 di Hotel JS Luwansa. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Bapak Budi Gunadi Sadikin. Wew!

Sebenarnya pihak Kementerian Kesehatan selalu mengisi acaranya dengan narasumber yang mumpuni di bidangnya. Jadinya kita-kita para blogger yang membantu menyebarkan informasinya tuh berdasarkan sumber terpercaya serta merasa beneran didukung dan dipercaya banget buat membantu pihak kemenkes. Tapi, melihat acara kali ini sampai didatangi langsung oleh Bapak Menteri, saya pun merasa info terkait stroke segitu pentingnya mesti disebarluaskan, supaya banyak yang terhindar stroke.

SeGeRaKeRS

Eniwei, narasumber kali ini untuk memperingati Hari Stroke Sedunia 2022 dengan tema global “The power of saving #Precioustime”, dan tema Nasional, “Setiap Menit Berharga, SeGeRa Ke RS” adalah sebagai berikut:
  • Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI
  • Pak Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI.
  • dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, M.ARS Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON)


Stroke berdasarkan data


Dan, benar saja kan, menurut Data WSO (World Stroke Organization) tahun 2022 menunjukkan bahwa:
  • 1 dari 4 orang berusia ≥ 25 tahun berisiko terkena stroke. Wah, mesti hati-hati nih kita, terutama yang umur lebih dari 25 tahun!
  • 12,2 juta orang diperkirakan akan terkena stroke. Dan, 6,5 juta diantaranya diperkirakan akan meninggal dunia.
  • Insiden stroke tertinggi pada usia 50-69 tahun (44%), disusul oleh usia > 70 tahun (40%), dan kejadian stroke pada usia <50 tahun (16%).

Kemudian, menurut Data Global Burden Disease Study tahun 2019, menyatakan bahwa di Indonesia adalah sebagai berikut:
  • 2 dari 1000 orang berisiko terkena STROKE per tahun.
  • Stroke termasuk penyakit katastropik ke-3 dengan pembiayaan tertinggi (Stroke menghabiskan biaya pelayanan kesehatan sebesar 1,91 Trilyun), menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2021. 

Lalu, menurut Data Sample Registration System (SIRS) Indonesia tahun 2018 menyatakan bahwa kematian akibat penyakit serebrovaskular menempati peringkat pertama sebesar 18,5%.

Serta, menurut Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS tahun 2018) menunjukkan bahwa karakteristik Kasus stroke di Indonesia adalah sebagai berikut: 
  • Kasus Stroke tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Timur (1,47 %) dan kasus terendah ada di Provinsi Papua (0,41 %).
  • Prevalensi kejadian stroke pada laki-laki (11,0 permil) hampir sama dengan kejadian stroke pada perempuan (10,9 permil).
  • Prevalensi kejadian stroke pada penduduk yang tinggal perkotaan (12,6 permil) lebih tinggi dibandingkan penduduk yang tinggal perdesaan (8,8 permil).

Gejala awal stroke

Emang ya, tidak bisa dipungkiri, semakin ke sini, apalagi semenjak pandemi, lifestyle masyarakat jadi kurang bergerak aktif dan makanan yang dimakan makin ada-ada aja. Alhamdulillah kalau kalian jadi makin rajin olahraga, tapi yang jadi makin mager mah banyak. Hayo ngaku, kalian tim mager atau rajin semenjak pandemi? Hehe. Dan bukan hanya lifestyle, tekanan mental juga agak berbeda ketika pandemi.

Bahkan, salah satu kenalan saya saja ada yang kena stroke. Kalau dilihat dari gejala awal sampai sekarang kondisi yang alhamdulillah sudah mendingan. Walaupun dia belum ngaku sih kalau kena stroke, mungkin malu karena masih muda banget.

Awal mulainya, dia jatuh gak sadarkan diri tapi pingsannya beda menurut orang yang melihatnya (belum diceritakan lebih lanjut oleh mereka). Lalu, langsung dibawa ke rumah sakit dan sampai sekarang sebelah sisi tubuhnya tidak seperti orang normal pada umumnya.

Sesuai dengan ciri-ciri yang diberitahu pihak kemenkes, yaitu “SeGeRaKeRS”, yang kepanjangannya adalah sebagai berikut:
  • Senyum tidak simetris;
  • Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba;
  • bicaRa pelo;
  • Kebas atau baal separuh tubuh;
  • Rabun/pandangan mata kabur tiba-tiba;
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.

Setiap Menit Berharga, SeGeRa Ke RS! The power of saving #Precioustime


Alhamdulillahnya kenalan saya tersebut segera dibawa langsung ke rumah sakit dan segera ditangani, jadi masih bisa diselamatkan meski sampai sekarang sebelah sisi tubuhnya belum kembali normal. Karena memang stroke itu meskipun sembuh, tapi biasanya agak sulit kembali normal.

Makanya itu, pentingnya bertindak CEPAT dan bagaimana tindakan penangannya. Sebab, setiap detik yang berlalu menjadi sangat berharga serta dapat meningkatkan kualitas hidup penyandang stroke.

Tidak ada tindakan terbaik jika menghadapi orang stroke, selain langsung dibawa ke rumah sakit, meski cuma baru satu gejala pun. Biar pihak rumah sakit yang menanganinya. Karena stroke ada level-levelnya.

Rumah sakit untuk penderita stroke


Meskipun belum semua rumah sakit memiliki fasilitas yang super duper unggulan untuk menangani stroke, tetapi saat ini, di Indonesia (baik Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta) telah memiliki 9 rumah sakit vertikal yang mampu memberikan layanan stroke tingkat paripurna, 3 rumah sakit tingkat utama, dan 6 rumah sakit tingkat madya dengan 292 buah yang menyediakan fasilitas Cathlab. Selain itu, untuk  pelayanan stroke tersedia dokter spesialis saraf sebanyak 2261 orang, 54 orang dokter neurointervensi, dan 38 orang dokter bedah saraf fellow/subspesialis vascular.

Btw, jika kalian berminat untuk jadi dokter yang menangani stroke, bisa menghubungi pihak kemenkes ya. Karena kalau tidak salah dengar di acara kemarin, pihak kemenkes bersedia memberikan beasiswa.


Cara terhindar dari penyakit stroke


Stroke adalah bagian dari penyakit kardioserebrovaskular yang digolongkan ke dalam penyakit katastropik. Karena dampaknya tidak hanya taruhan nyawa atau fisik, tapi lebih luas lagi, yaitu bisa menyerang secara ekonomi dan sosial.

Namun, stroke bukan penyakit menular ataupun penyakit turunan, masih dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya, yaitu:
  • Rokok
  • Kurang aktifitas fisik
  • Tekanan darah yang tinggi
  • Gula darah yang tinggi
  • Diet yang tidak sehat

Atur pola makan dan olahraga, serta perhatikan lingkar perut ya, bestie! Perut buncit tidak hanya mengganggu penampilan, tapi juga bisa menentukan kadar kesehatan. Semakin buncit, mungkin semakin berisiko ada penyakit.

Upaya pemerintah untuk mengendalikan penyakit stroke di masyarakat


Sedangkan, dari Kementerian Kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian Penyakit Kardioserebrovaskular selain akan mengenakan pajak jika ada yang melebihi kadar gula atau kadar lainnya dalam suatu makanan/minuman, pemerintah juga melakukan upaya sebagai berikut:

Upaya promotif

Dengan mengkampanyekan perilaku CERDIK, yaitu:
  • (C) Cek kesehatan secara berkala
  • (E) Enyahkan asap rokok
  • (R) Rajin beraktivitas fisik
  • (D) Diet sehat dengan kalori seimbang
  • (I) Istirahat cukup
  • (K) Kelola stres 

Upaya edukasi
Dengan memberikan info ke masyarakat dalam mengenali tanda dan gejala dini serangan stroke. Atau dikenal dengan jargon “SeGeRaKeRS”. Katanya, dalam kurikulum merdeka pun sudah ada.

Upaya preventif

  • Dengan mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini, melalui pemantauan IMT (tinggi badan, berat badan), pengukuran tekanan darah, dan gula darah minimal 1 kali dalam setahun bagi yang belum mempunyai faktor risiko PTM (Penyakit Tidak Menular).
  • Sedangkan, masyarakat yang sudah mempunyai faktor risiko PTM diharapkan dapat melakukan perubahan gaya hidup.
  • Penderita Hipertensi dan Diabetes Militus harus memeriksakan kesehatan sebulan sekali, melakukan pemeriksaan profil lemak dalam darah, dan EKG sebagai upaya skrining penyakit Kardiovaskular dan Stroke minimal 1 tahun sekali.

Upaya kuratif

Penguatan pelayanan kesehatan dengan mengembangkan jejaring pengampuan Rumah sakit layanan stroke. Terus katanya, kita bisa telepon ke 119 jika butuh info atau bantuan terkait stroke.

Ke 9 Rumah Sakit Paripurna akan memberikan bimbingan/pengampuan, sehingga diharapkan pada akhir tahun 2024 setiap Provinsi akan memiliki paling sedikit 1 buah Rumah Sakit Utama dan setengah dari kabupaten/kotanya mempunyai Rumah Sakit Madya yang akan menjadi rujukan regional bagi kab/kota disekitarnya.

Upaya rehabilitatif
  • Dilakukan pada fase akut (selama di rumah sakit) dan fase kronis untuk mencegah disabilitas atau serangan ulang.
  • Untuk pelayanan rehabilitasi akan dilakukan dalam bentuk homecare dan rehabilitasi bersumberdaya masyarakat yang akan dilakukan oleh para kader terlatih.
  • Edukasi kepada keluarga dan caregiver bagaimana cara melatih penderita.


***

Gimana nih dari postingan saya kali ini, apa sudah menambah info terkait stroke? Semoga sudah ya. For more info, tentu saja kalian bisa nanya langsung ke sosmed Kementerian Kesehatan ya.

Dan, semoga tidak hanya bertepatan Hari Stroke Sedunia atau tanggal 29 Oktober saja kita mengingat dan menghindari stroke, tapi juga setiap saat ya! Sebab, sesuai pesan Pak Menteri, meski stroke ditanggung BPJS 100%, tapi jangan sampai kena stroke!

Salam,


Hani, yang semoga selalu sehat, berkah, dan bermanfaat. Aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)