Halaman

Selasa, 05 September 2023

Kisah Kak Yuliati, OYPMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta) Perempuan yang Menginspirasi

Cewek tuh ada jerawat kecil aja, walaupun cuma satu, tapi udah uring-uringan gimana tau, apalagi terkena suatu penyakit, seperti kusta. Makanya itu, saya mengerti perasaan Kak Yuliati ketika beliau cerita sampai sempat putus kuliah saat timbul tanda-tanda kusta, yaitu adanya bercak putih seperti panu. Karena kusta memang selain bisa mempengaruhi, bahkan merusak fisik, bisa juga mengganggu kepercayaan diri.


Btw, di postingan kali ini, saya mau share cerita Kak Yuliati, OYPMK Perempuan dan Ketua PerMaTa SulSel, selaku narasumber di Event: Talkshow LIVE YOUTUBE Edukasi Kusta Ruang Publik KBR bersama NLR INDONESIA. Kak Yuliati dalam talkshow tersebut menceritakan perjalanannya bersama kusta. Dan, saya rasa akan menarik jika diceritakan kembali di blog, so, cekidot!

Awal Kak Yuliati Terkena Kusta


Pada tahun 2011, Kak Yuliati ada gejala kusta, yaitu bercak kecil tapi mati rasa di ibu jari kakinya, yang kemungkinan tertular dari sepupu dekatnya yang memiliki kusta. Meski begitu, belum ada yang menyadari bahwa sang sepupu tersebut terkena penyakit kusta.

Buat yang belum tahu, gejala awal kusta yang biasanya terlihat adalah sebagai berikut:
Ada bercak merah &/ bercak putih, seperti panu, tapi biasanya mati rasa, tidak gatal maupun sakit, dan tidak sembuh dengan obat kulit biasa.

Kusta memang penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri jenis Mycobacterium Leprae dan bisa menyebar melalui percikan ludah si pengidap kusta ketika batuk/bersin, tapi sebenarnya kusta tidak segitunya cepat menularkan ke orang lain, jadi masih bisa hidup berdampingan. Mungkin imun Kak Yuliati sedang tidak baik, jadi tertular.

Dalam jeda sekitar 1 tahun, Kak Yuliati mencari informasi dan meyakinkan diri apa betul itu kusta atau bukan. Tapi Kak Yuliati menyembunyikannya dari keluarga, bahkan sempat putus kuliah. Karena kekhawatiran akan stigma yang beredar tentang kusta.

Hingga akhirnya, kakak iparnya ke rumah menanyakan keadaannya. Karena sudah terpojok, akhirnya Kak Yuliati terbuka ke kakak iparnya. Lalu, didampingi lah ke puskesmas untuk pemeriksaan dan dilakukan pengobatan.

Jika ada gejala kusta, HARUS SEGERA ke dokter dan minum obat yang direkomendasikan, sebelum melebar dan menimbulkan kecacatan/disabilitas. Apapun itu, dalam proses penyembuhan, misal ada efek samping, langsung segera konsultasikan ke dokter. 

Support Keluarga dan Ikut Organisasi PerMaTa, Bantu Kak Yuliati Menerima Keadaan


Dari cerita Kak Yuliati, senang sekali saya mendengar bahwa keluarganya tetap mendukung di saat Kak Yuliati patah semangat. Malah Kak Yuliati yang menarik diri jika ada acara keluarga, dikarenakan khawatir menularkan penyakit kustanya.

Tetap semangat! Karena faktanya kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan!
 
Ditambah lagi ketika gabung ke PerMaTa (Perhimpunan Mandiri Kusta), yaitu organisasi dari dan untuk penderita kusta atau OYPMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta). Di organisasi tersebut saling menguatkan satu sama lain dan sharing pengalaman.

Apa itu PerMaTa?


Organisasi yang tidak hanya di Sulawesi Selatan, tapi juga ada di Jawa Timur, NTT, Ambon, dan Sumatera. PerMaTa ada 3 tingkatan, yaitu Provinsi, Nasional, dan kabupaten.

Di 12 kabupaten Sulawesi Selatan, masing-masing ada cabang PerMaTa. Lalu, ada 9 cabang di Jawa Timur dan 5 cabang di NTT.

PerMaTa membantu para penderita kusta terhindar dari disabilitas dengan memberikan sosialisasi ke masyarakat secara door to door, ke sekolah-sekolah, melalui radio, media sosial, website di www.permatasulsel.com dsb.

Ini bukan organisasi resmi pemerintah ya, meski saat sosialisasi berkoordinasi dengan dinas kesehatan. Jadi tidak tahu data penderita kusta dsb. Tapi PerMaTa bisa jadi teman sharing, yang harapannya bisa memotivasi dan bangkit dari keterpurukan. Selain itu, akan membantu mengarahkan ke puskesmas jika ada gejala kusta atau mendampingi jika malu untuk berobat.

Dukungan NLR Indonesia untuk PerMaTa


NLR Indonesia, yayasan nirlaba dan non-pemerintah yang membantu menanggulangi kusta dan konsekuensinya di Indonesia, mendukung PerMaTa dengan melatih untuk menjadi penyuluh, memberi kesempatan untuk menjadi narasumber, seperti Kak Yuliati, dan di 2 kabupaten SulSel, NLR Indonesia mendukung program Bina Desa Sahabat Kusta (Bina Desaku) dan Mardika (Masyarakat Ramah Disabilitas dan Kusta) dll.

Cara Kak Yuliati Mengatasi Stigma


Kusta memang masih belum terlepas dari stigma negatif. Tapi Kak Yuliati menghadapinya dengan berpikir bahwa dirinya harus maju, tanpa mempedulikan pandangan orang lain, punya tujuan, dan yakin pasti ada yang menerimanya apa adanya.

Kak Yuliati yang sekarang alhamdulillah sudah sembuh juga menjelaskan ke orang lain bahwa dirinya sudah sembuh, tidak ada masalah, tidak usah takut, karena sudah tidak bisa menularkan kusta ke orang lain, selain itu juga menjaga kebersihan.

Tetap lanjutan pengobatan, jangan sampai putus. Sehingga teman-teman (penderita kusta) bisa sembuh. Dan, apabila mengalami reaksi, segera laporkan ke puskesmas. Bisa berpikir, harus lebih baik dari orang lain. Kita pasti bisa! - pesan Kak Yuliati menutup talkshow.


Yak, itu kurang lebih cerita Kak Yuliati yang bisa saya sharing kali ini. Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)