Tanggal 9 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (International Day of the World's Indigenous Peoples), dan kali ini saya bersama teman-teman EBS (Eco Blogger Squad) memperingatinya dengan bersama-sama belajar gastronomi Indonesia di Seniman Pangan, Bekasi. Jadi, tidak hanya makan makanan nusantara dari Aceh sampai Papua, tapi juga mengenal lebih dalam sejarahnya.
Seniman Pangan Bekasi
![]() |
| Spill harga di Cafe Seniman Pangan |
Berlokasi di Ruko Alun-Alun Business Park, NO 4-5, RT.002/RW.001, Padurenan, Kec. Mustika Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat 17156, ternyata ini bukan Cafe biasa. Karena terdapat lahan seluas 3 hektar, yang itu pun belum semua ditanami. Dan, di Cafe ini, ada Sekolah Seniman Pangan, wadah pelatihan yang dibuat Javara Indonesia.
Acara diawali dengan pembukaan dan kita diperkenalkan dengan timnya Seniman Pangan. Kemudian, kita dibagi dua kelompok untuk ke kebunnya. Saya termasuk kelompok pertama didampingi oleh Kak Corazon Nikijuluw selaku Food Technology and Education Manager Seniman Pangan.
Di kebun, dijelaskan ada tanaman apa saja dan dikenalkan dengan Solar Dome Dryer. Lalu, dibantu dengan Pak Tri, kita menanam cabai, memetik kopi dan singkong, makan tebu, dan mengenal lebih dalam cerita tentang tanaman yang ada. Kita juga main games tebak remah-rempah dalam pouch.
Tanaman yang ditanam sangat beragam. Bibit atau bijinya ada yang dibawa dari daerah yang dikunjungi oleh tim Seniman Pangan. Hasil tanamannya tidak hanya untuk dilestarikan dan dipelajari, tapi juga dijual dan diolah menjadi produk lokal yang bernilai tinggi. Takjub banget deh mendengar kisahnya, apalagi Mama Etih Suryatin selaku Partnership Director Seniman Pangan menceritakan pengalamannya terjun langsung ke daerah-daerah.
Setelah berkeliling di kebun, kita berkenalan dengan beberapa produk lokal yang menarik, seperti Garam Nypa dari Papua, yang merupakan garam dari tumbuhan bukan dari laut, lalu ada Jamur Gerigit, diceritain juga bahwa besek anyaman yang ditunjukan bukan sekedar besek pada umumnya, tapi pewarnaanya harus ada ritual terlebih dahulu, serta produk lainnya yang dikemas secara apik. Karena di Seniman Pangan, ingin mengajarkan dan mengajak para petani, masyarakat adat, atau yang belajar di Seniman Pangan untuk membuat produk lokal yang berkualitas serta berkelas, bukan sekedar mengejar kuantitas.
Kalau belajar di Seniman Pangan, tidak hanya diajarkan mengembangkan produk lokal jadi naik kelas, marketing-nya juga dibantu. Diajarkan bagaimana tampilan booth, kalau ikut bazzar, jadi menonjol dibanding booth lainnya, tapi tetap sustainable.
Selanjutnya, kita membuat Sirup Kemangi dan Selai Rosella homemade. Berikut alat, bahan, dan caranya:
Resep Sirup Kemangi
Alat dan Bahan:
- Timbangan
- Blender
- Saringan
- Wadah
- Wajan
- Spatula
- Refraktometer (kalau buat dikonsumsi pribadi, tidak wajib sepertinya, asal segera dikonsumsi)
- Gula pasir
- Kemangi
- Air es
Cara Membuat:
- Petik daun kemangi
- Cuci kemangi
- Rebus air sampai hangat-hangat kuku
- Masukan kemangi jangan terlalu lama
- Angkat dan masukan ke air es
- Tiriskan, peras sampai tidak ada air
- Blender dengan air gula sampai daun kemanginya tertutup
- Saring
Jika untuk konsumsi pribadi, cukup sampai situ dengan takaran yang gak harus saklek. Tapi jika ingin dijual botol berukuran 150ml, kemanginya sebanyak 165g, gula pasir 28g, air 157g. Setelah disaring, campurkan dengan sisa air gula, masak hingga brix 72. Lalu, tuang ke botol sebanyak 200g, tutup botol dengan rapat, steril selama 20 menit.
Gak nyangka banget dah kemangi yang biasa buat lalapan bisa jadi minuman yang manis, segar, dan masih berasa wanginya. Recommended buat yang lagi nyari menu jualan atau sajian yang beda!
Resep Selai Rosella
Alat dan Bahan:
- Timbangan
- Blender
- Refraktometer (kalau buat dikonsumsi pribadi, tidak wajib sepertinya, asal segera dikonsumsi)
- Wadah
- Wajan
- SpatulaRosella
- Gula pasir
- Air
Cara Membuat:
- Blender rosella dengan air hingga sedikit chunky
- Campur rosella dengan gula
- Masak dengan api kecil hingga brix 45
Jika ingin dimasukan ke dalam 2 jar berukuran 120g, rosellanya berjumlah 165g, gula pasir 102g, air 19g. Untuk rasa, selai bunga rosella rasanya seperti strowberi, agak sedikit asam.
Local Food Local Pride
Selesai membuat selai, makan siang siap tersaji. Ada beberapa menu yang baru pertama kali saya lihat. Dan benar saja, saat Kak Johanna Hehakaja selaku Business Director Sekolah Seniman Pangan menjelaskan, menu yang tersaji adalah beberapa menu dari Aceh sampai Papua.
Saya mencoba Nasi Subut dari Kalimantan, yaitu nasi dengan campuran jagung dan ubi ungu. Menu ini tercipta dengan tujuan, supaya kenyang lebih lama. Saya juga mencoba Sate Singkong dengan sambal kacang dari Mollo NTT. Jadi satenya berwarna hijau gelap dan rasanya enak, bukan kayak daging, tapi tidak terlalu nyayur juga. Terus, saya mengambil Sambal Tumpang, menu seperti sayur, tapi ternyata tempe dengan kuah. Untuk menu pangan lokal lainnya, saya makan tahu bacem, kerupuk, dan pecel.
![]() |
| 2 minuman yang terdokumentasi |
Padahal saya mau coba semua menunya, tapi sudah keburu kenyang nyemil roti dengan selai rosella, minum Telang Sereh dan Sirup Kemangi. Panasnya Bekasi bikin mau yang dingin-dingin!
Menu yang belum saya coba itu Inter Singkong dari Bogor, Ayam Tangkap dari Aceh, Perkedel Jagung dari Mollo NTT, Ikan Goreng, dan Tempe Bacem. Next mau banget deh coba juga.
| Dessert lokal: Sagu Sep Pisang dan Rujak Aceh |
Untuk condiments-nya juga sayang banget saya belum coba, padahal sepertinya enak deh makan pakai Sambal Beberok dari NTB dan Sambal Terong Belanda dari Sumatera Selatan. Alhamdulillahnya untuk dessert saya sudah coba semua, karena memang saya cenderung makan cemilan dibanding nasi. Saya coba Rujak Aceh, yang menurut saya kayak rujak bebeg, tapi lebih berasa kacangnya. Saya juga mencoba Sagu Sep Pisang dengan Gelatto dari Papua, yang menurut saya seperti pisang pakai eskrim. Overall, semua makanannya enak dan mengenyangkan banget!
Melestarikan dari Rumah
Pengalaman di Seniman Pangan suatu pengalaman yang terlupakan banget! Karena tidak hanya seru dan menambah wawasan serta pengalaman, tapi juga menimbulkan rasa bangga dan rasa penasaran buat tahu lebih dalam lagi. Kok bisa ya, tim Seniman Pangan menyulap sumber daya alam yang kelihatannya b aja, karena mungkin ada banyak di sekitar kita, tapi dibuat jadi berkelas.
Semoga dengan tahu lebih banyak menu makanan dan minuman dari bahan lokal, saya bisa coba bikin di rumah. Buat yang lihat konten saya juga, semoga terinspirasi!
Karena memanfaatkan pangan yang berasal dari daerah setempat bisa jadi salah satu cara untuk berkontribusi dari rumah. Kita juga bisa meningkatkan restorasi ekonomi, serta menjaga dan melestarikan pengetahuan tradisional serta warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities/Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal).
Buat teman-teman yang di daerahnya masih banyak sumber daya alam yang belum dikembangkan dengan baik, saran saya segera deh bekerjasama dengan Seniman Pangan. Pelajari semuanya, sehingga bisa mengembangkan pangan lokal daerahnya.
@ecobloggersquad @senimanpangan @niora_indonesia
#BersamaBergerakBerdaya #Javaraindonesia #HIMAS2026
#BersamaBergerakBerdaya #Javaraindonesia #HIMAS2026

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hehooo semuanya,
Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)