Beberapa tahun terakhir, saya tidak asing dengan kata Centella Asiatica, yang ternyata sebuah tanaman yang bisa tumbuh di Indonesia dan wilayah tropis lainnya di Asia. Karena saya pikir itu adalah sebuah ingredients yang hanya bisa didapatkan di Korea. Mengingat brand skincare Korea yang mempopulerkannya. Tapi ternyata di Indonesia juga ada! Biasanya tumbuh liar di tempat yang lembab dan teduh, seperti pematang sawah, tepi sungai, dll. Tapi saya pernah lihat langsungnya di Seniman Pangan Bekasi.
Centella asiatica bermanfaat untuk menahan laju erosi dan menjaga struktur permukaan tanah dari hempasan air hujan, serta menjaga kadar air dan mikroklimat tanah di sekitarnya. Terus untuk pemanfaatannya, ternyata tidak hanya untuk kandungan skincare atau bahan kecantikan dan kesehatan, tapi centella asiatica juga bisa dimakan. Karena saya pernah lihat konten yang menjadikan tanaman tersebut lalapan. Setelah saya searching, centella asiatica memang aman dikonsumsi, bisa jadi lalapan, ditumis, atau dijadikan bahan minuman.
Wow, menarik sekali! Karena dipakai buat skincare aja bagus manfaatnya untuk kulit, apalagi dimakan langsung, ya? Kayaknya kulit wajah saya makin kinyis-kinyis. Hehe. Sebab, centella asiatica ada efek antioksidan dan antiinflamasi yang bisa membantu melindungi kulit dari penuaan dini, membuat kulit tampak lebih sehat dan terawat.
Tidak hanya bermanfaat untuk kulit, setelah saya searching, centella asiatica atau biasa juga disebut Cica atau Pegagan/Antanan punya manfaat untuk kesehatan. Kandungan vitamin C di centella asiatica bisa membantu menjaga daya tahan tubuh, melawan infeksi, dan melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, bisa juga menjaga fungsi otak, hingga membantu mengatasi sulit tidur.
Centella asiatica adalah salah satu tumbuhan yang memiliki fungsi ganda. Tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan atau kehidupan tapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan serta produk lain yang kaya akan manfaat.
Baca juga: Local Food, Local Pride
Webinar Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat
![]() |
| Mangrove |
Ngomongin tentang tumbuhan yang mempunyai fungsi ganda, saya jadi mau sharing apa saja info yang saya dapatkan di webinar pertama yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad (EBS) periode 2026–2027 berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF). Karena di webinar tersebut membahas tentang mangrove yang punya double job, tidak hanya
berfungsi menjaga ekosistem, tetapi buahnya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen
Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota.
Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.
Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu
pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai
ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.
Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove
dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan
anak muda.
Webinar kali ini juga berkaitan dengan momentum Bangkok Climate Action Week 2026, yang diselenggarakan pada tanggal 3-11 Oktober 2026. Di event tersebut membahas berbagai solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Namun, solusi tidak hanya datang dari ruang-ruang diskusi, banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal. Salah satunya dilakukan oleh Mama Agustina di Papua Barat atau Wawiyai
Steve dari Raja Ampat.
Dengan narasumber Bung Daniel Kbarek (Program Officer The Asian Foundation) dan Bung Wawiyai Steve (Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat), bahasan yang diangkat selain menekankan pentingnya ekosistem mangrove sebagai bagian dari
solusi ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan bagi generasi sekarang dan mendatang, juga memberitahukan praktik baik
masyarakat di Raja Ampat melalui Program PAPeDA. Fyi, Wawiyai Steve adalah salah satu tokoh dari salah satu dari 40 cerita yang dihimpun melalui inisiatif “Cerita Perubahan”. Beliau menunjukkan bagaimana mangrove tidak hanya berperan dalam menjaga ekosistem, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan dan penghidupan masyarakat.
Baca juga: Sekolah Konservasi Bekantan
Menjaga Sumber Pangan dari Mangrove di Raja Ampat
![]() |
| Manfaat Hutan Mangrove |
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa adanya Mangrove bisa menjadi pelindung pantai, termasuk di daerah Raja Ampat. Tapi tidak hanya itu, akarnya yang kompleks menyediakan tempat berlindung dan pemijahan bagi berbagai spesies laut unik. Bisa menjaga keseimbangan ekologi di wilayah perairan Papua yang kaya.
Lalu, dari paparan materi Bung Daniel Kbarek, saya jadi tahu bahwa Raja Ampat salah satu area mangrove paling utuh di
dunia. Sehingga, selain menyimpan varietas flora
pesisir yang mendukung
rantai makanan lokal secara
berkelanjutan, juga ekosistemnya menjadi rumah biota endemik yang
tidak ditemukan di tempat
lain. Sebuah aset
warisan dunia yang tidak
tergantikan bagi ilmu
pengetahuan dan lingkungan!
Dengan menjaga mangrove, berarti menjaga stok protein hewani untuk pemenuhan gizi masyarakat dalam jangka panjang. Karena adanya rantai makanan perairan pesisir. Kualitas airnya juga baik. Sebab, mangrove menyaring sedimen dan
polutan.
![]() |
| Hasil Olahan Mangrove |
Pemanfaatan Buah dan Bunga Mangrove
Komunitas lokal, Anggota KUPS Sinya Lep di
Desa Friwen dilatih mengolah
buah mangrove (aibon) atau hasil laut non-ikan secara berkelanjutan untuk ekonomi lokal tanpa merusak keseimbangan ekosistem laut dan pesisir. Buah jenis Bruguiera gymnorrhiza diolah menjadi bahan baku tepung sebagai substitusi karbohidrat lokal. Buah mangrove juga diolah menjadi kue dan keripik.
![]() |
| Buah Mangrove |
Kemudian, sari buah mangrove diolah menjadi bahan
dasar sirup dan minuman kesehatan kaya
antioksidan. Nektar bunga mangrove diolah menjadi madu alami yang mengandung antioksidan spesifik dari vegetasi hutan bakau.
Masyarakat juga dilatih untuk membuat produk layak jual dan bisa bersaing dengan produk UMKM lainnya. Dilakukan kurasi produk sesuai standar kemasan. Dilakukan pemanfaatan digitalisasi dengan pemasaran melalui e-commerce, serta menjalin kolaborasi dengan industri perhotelan dan restoran. Bisa jadi produk oleh-oleh.
Ekowisata
Selain menjual olahan mangrove untuk produk makanan, minuman, kerajinan tangan, dan sabun, di Raja Ampat juga menyediakan ekowisata jalur tracking mangrove untuk edukasi konservasi ekosistem, penangkapan
ikan tradisional, pemanenan komoditas
mangrove yang berkelanjutan, dan wisata lainnya.
Baca juga: Mitigasi Perubahan Iklim
Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan
![]() |
| Upaya Masyarakat Dalam Melakukan Restorasi Mangrove |
Eh, tapi, tahukah kamu bahwa Hutan
Mangrove Doredor pernah ditutup selama 10 tahun
(2009–2019)? Wilayah Adat yang dijaga dan
dilindungi oleh masyarakat Kampung Friwen dan sebagai central
pemijahan ikan di Selat Dampier Raja Ampat Papua Barat Daya ini pada tahun 2019 mengalami kerusakan
mencapai 57% atau setara 133 Ha dari
total luasan hutan mangrove 233 Ha.
Hutan
mangrove mengalami degradasi akibat pengambilan kayu untuk kebutuhan
bahan baku bangunan homestay dan resort di Raja Ampat. Lalu, dibangunlah inisiasi pada tahun 2018
oleh masyarakat adat di Kampung
Friwen dan Kampung Yenbeser, seperti:
- Pemetaan partisipatif
- Identifikasi jenis mangrove
- 16 jenis sejati dan 28 asosiasi
- Pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai bahan pangan lokal
Banyak aksi nyata yang dilakukan Kelompok Tani Mangrove (KTM) dalam upaya
restorasi mangrove dari tahun 2019. Pada tahun 2022 Kelompok Tani Mangrove (KTM) Friwen-Yenbeser
mengajukan usulan Hutan Desa ke Sekjen KLHK,
Bapak Dr. Ir. Bambang Hendroyono pada Kegiatan Penanaman
Mangrove di Yenatar Pulau Gam Kabupaten Raja Ampat,
dalam rangka mendukung implementasi FOLU Net Sink dengan
target proyeksi angka net sink 140 juta ton C02e atau emisi
negative sebesar 140 juta ton CO2e. Diterbitkan SK Menteri LHK No.
SK.11608/MENLHK-PSKL/PKPS/P
SL.0/9/2024, adanya LPHD, 4 KUPS, 1 kelompok patroli
dan 1 Pokja Perempuan
Perlindungan Mangrove, Pengelolaan Kawasan seluas 1.025 Ha yang
diperuntukan untuk Ruang Lindung, Ruang
Pemanfaatan dan Ruang Pemanfaatan
Konservasi, Dokumen RKPS (Rencana Kelola Perhutanan Sosial) dan RKT (Rencana Kerja Tahunan.
![]() |
| Upaya Masyarakat Dalam Melakukan Restorasi Mangrove |
Hadirnya Program Pelestarian Sumber Daya Alam dan Peningkatan Kehidupan Masyarakat Adat Melalui Pertanian Berkelanjutan di Tanah Papua (PAPeDA) 4 dan PAPeDA 5, melalui
kemitraan The Asia Foundation dan Perkumpulan
Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), juga mulai membuka
ruang perubahan. Karena pendampingannya tidak hanya penyampaian
informasi tentang Perhutanan Sosial, tetapi mulai
membangun proses perubahan dari tingkat kampung
hingga mendorong perhatian di tingkat kabupaten.
Melalui PAPeDA 4 yang dilaksanakan di Kampung
Friwen, PKPRA bersama The Asia Foundation mulai
memperkuat pemahaman masyarakat melalui
sosialisasi tentang Perhutanan Sosial dan skema Hutan
Desa sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem,
termasuk ekosistem mangrove. Sedangkan PAPeDA 5, memperkuat kelembagaan, meningkatkan kapasitas
usaha masyarakat, membangun jejaring dan
kemitraan, serta mendorong dukungan kebijakan di
tingkat daerah. Salah satu perkembangan penting adalah mulai
munculnya pembicaraan mengenai Bantuan
Keuangan Ekologi (BKE) sebagai bagian dari kebijakan
fiskal daerah.
![]() |
| Merawat Mimpi Menumbuhkan Inspirasi |
Keren banget deh perjuangan masyarakat adat untuk restorasi mangrove, sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan! Ditambah lagi, perempuan juga diajak mempunyai andil yang cukup besar, mulai dari menjaga sampai mengelolanya.
Memang ya, menjaga hutan sama saja menjaga sumber pangan! Nah, sekarang saya challenge nih buat para pembaca blog saya untuk berbagi cerita atau pengetahuan tentang pangan lokal daerah di kolom komen atau buat suatu konten, nanti tag saya ya!









Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hehooo semuanya,
Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)