nisaahani: blogger yang suka sharing review: Seribu Helai: Detektif Mencari Jejak Ritual Rambut Sewu

Selasa, 26 Mei 2026

Seribu Helai: Detektif Mencari Jejak Ritual Rambut Sewu

Rambut Sewu

Tentang seorang detektif yang datang mencari pelaku Ritual Rambut Sewu, dan pulang dengan lebih banyak pertanyaan dari yang dia bawa masuk.

Fiksi · Yogyakarta, 1991

Amplop itu tidak bertanda pengirim. Di dalamnya ada selembar foto hitam putih, sebuah kartu nama tanpa nama, dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan kecil. Foto itu menampilkan seorang pria paruh baya dalam seragam dinas dengan senyum lebar di depan spanduk pelantikan. Kartu namanya mencantumkan instansi pemerintah di Yogyakarta. Kertasnya singkat saja: lima orang dalam enam tahun, semuanya mundur tanpa alasan setelah pernah menghalangi karir seseorang. Tolong cari tahu kenapa. Bayarannya sudah masuk.

Rudi, detektif swasta yang kantornya di Semarang tidak pernah lebih mewah dari dua kursi dan kipas angin yang berputar terlalu pelan, membaca surat itu dua kali. Lalu dia menyalakan rokok dan memesan tiket bus ke Yogyakarta.

Pejabat yang tertera di foto itu bernama Ir. Bambang Tedjo, Kepala Dinas Pertanian Provinsi DIY. Lima puluh dua tahun. Karirnya naik dengan kecepatan yang tidak lazim — bukan karena dia melangkah terlalu jauh, tapi karena semua yang ada di depannya seperti selalu menyingkir sendiri. Empat tahun di posisi kepala seksi, tiga tahun kepala bidang, dan sekarang kepala dinas. Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan tepat kenapa dia layak lebih cepat dari yang lain. Tapi tidak ada juga yang mau mengatakan dia tidak layak.

Rudi menghabiskan tiga hari pertama di Yogyakarta hanya duduk di warung kopi depan kantor dinas sambil mengamati. Bambang Tedjo datang pukul tujuh, pulang pukul enam, tidak pernah meleset. Mobilnya selalu bersih. Sopirnya, seorang pria tua bernama Parmin, menunggu di parkiran dengan sabar seperti orang yang sudah terbiasa menunggu tanpa tahu untuk apa.

Yang menarik perhatian Rudi bukan Bambang Tedjo. Tapi perempuan yang selalu turun dari mobil itu dua menit lebih awal.

Namanya Ibu Tini. Usianya sekitar empat puluh tahun. Tinggi sedang, rambut hitam panjang yang selalu disanggul, kacamata frame tipis yang membuatnya tampak lebih tua dari seharusnya. Dia duduk di meja paling dekat pintu ruangan Bambang Tedjo. Posisi penjaga gerbang. Tapi bukan yang defensif — dia tahu nama semua tamu, hafal semua jadwal, dan berbicara dengan nada yang tidak pernah terlalu ramah dan tidak pernah terlalu dingin. Persis seperti furniture yang baik: ada di mana-mana, tidak terasa keberadaannya, dan semuanya menjadi kacau ketika tiba-tiba tidak ada.

Dari seorang pegawai junior yang mau bicara setelah dua gelas es teh, Rudi tahu bahwa Ibu Tini sudah bekerja dengan Bambang Tedjo sejak pria itu masih kepala seksi. Sebelas tahun. Ikut terus ke mana pun Bambang Tedjo dipindahkan dan dipromosikan, selalu satu langkah di belakangnya.

Lima orang yang mundur itu adalah mantan atasan Bambang Tedjo yang menentang promosinya, rekan kerja yang melaporkan ketidakberesan anggaran, staf senior yang tahu terlalu banyak, seorang perempuan yang pernah mengajukan keberatan resmi, dan yang terakhir seorang pria bernama Budi yang sekarang berjualan burung perkutut di Pasar Ngasem dengan rambut yang sudah memutih sepenuhnya padahal di foto lama masih hitam tebal.

Rudi menemui Budi di antara sangkar-sangkar burung yang berbunyi riuh. Pria itu memandangnya lama sebelum mau bicara.

"Setelah saya mengajukan keberatan resmi atas promosi itu, saya tidak bisa tidur tiga bulan. Setiap malam mimpi yang sama: ada yang berdiri di sudut kamar. Tidak bergerak, tidak bicara. Istri saya sampai bawa orang pintar ke rumah. Katanya ada yang nempel di saya."

"Terus?" kata Rudi.

"Setelah saya mengajukan pindah, mimpi itu berhenti."

"Bapak pikir Pak Bambang yang lakukan itu?"

Budi menggeleng. "Pak Bambang orangnya biasa saja. Tapi ada yang di sekitarnya yang tidak biasa."

Bukti pertama muncul di hari kedelapan, dari seorang pramubakti yang tidak suka pada atasan dan mau bicara dengan imbalan sebungkus rokok. Di laci kiri meja Bambang Tedjo ada kemenyan yang sudah lama. Di dompetnya ada foto udara kawasan persawahan di selatan Bantul dengan lingkaran tinta merah tanpa keterangan. Di dalam tas mobilnya ada buku kecil bersampul hitam berisi tulisan aksara Jawa kuno yang rapat. Dan di bawah tumpukan dokumen anggaran, di laci kanan, ada seikat kecil rambut diikat benang putih tipis.

Rudi membawa foto aksara Jawa itu ke seorang kenalan lama, pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya meneliti budaya Jawa dan mau bicara panjang dengan siapapun yang membawakan dia teh hangat. Orang itu membutuhkan waktu lama untuk membaca. Bibirnya bergerak pelan mengeja. Lalu dia meletakkan foto itu dan berkata bahwa ini bukan catatan yang ditulis oleh Bambang Tedjo. Ini catatan tentang dia. Tentang ritual yang dijalankan untuk mengikatnya.

"Ritual apa?" tanya Rudi.

"Rambut Sewu Wengi. Bentuk penyimpangan dari ritual komunal Jawa yang aslinya dipakai untuk menjaga keseimbangan desa. Dalam versi ini, pelaku mengumpulkan rambut miliknya sendiri dan rambut orang yang menjadi objek selama tujuh kali tujuh hari. Dibakar malam Jumat Kliwon di tanah yang punya riwayat spiritual panjang. Dalam kepercayaan yang beredar, orang yang diikat akan selalu butuh pada pelakunya. Tidak bisa pergi jauh. Setiap usaha yang memisahkan mereka akan menemui hambatan yang tidak bisa dijelaskan."

Rudi diam sebentar. "Dan semua yang menghalangi karir Bambang Tedjo itu sebenarnya mengancam untuk memisahkan dia dari pelaku ritualnya."

"Kemungkinan besar begitu."

"Siapa yang punya akses ke rambutnya selama sebelas tahun?"

Pensiunan guru itu tidak menjawab. Tapi dia menatap Rudi dengan cara yang membuat Rudi tidak perlu mendengar jawabannya.

Rudi menemui Ibu Tini bukan di kantor. Di warung makan kecil di gang dekat Pasar Beringharjo, tempat perempuan itu makan siang setiap hari Selasa. Tini sudah duduk dengan nasi pecel di depannya ketika Rudi datang dan duduk di kursi seberang tanpa diundang. Tini memandangnya sebentar lalu kembali pada nasinya.

"Saya sudah tahu Bapak akan datang," katanya.

"Sejak kapan?"

"Sejak Bapak ngobrol dengan Pak Budi di pasar burung. Jogja kecil, Mas."

Rudi memesan teh. Menunggu.

"Bapak mau tanya kenapa," kata Tini. Bukan pertanyaan.

"Ya."

"Bapak sudah pernah bekerja untuk seseorang selama sebelas tahun?"

"Belum."

"Selama sebelas tahun saya yang atur jadwalnya. Saya yang tahu anaknya ulang tahun kapan. Saya yang ingat obat tekanan darahnya harus diminum jam berapa. Saya yang terima telepon dari orang-orang yang ingin menghancurkannya dan putuskan mana yang boleh diteruskan dan mana yang tidak."

Tini menyeruput tehnya.

"Dua kali hampir ada yang berhasil memindahkan saya lewat jalur yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Dan saya tidak bisa membiarkan itu."

"Jadi Ibu melakukan ritual itu."

"Saya melakukan apa yang perlu dilakukan. Saya tidak pernah menyuruh orang-orang itu pergi. Yang saya minta hanya satu: agar dia tidak punya alasan untuk tidak membutuhkan saya. Apapun yang terjadi pada orang-orang itu bukan permintaan saya. Itu konsekuensi dari sesuatu yang lebih besar dari yang saya bayangkan."

"Ibu minta agar dia selalu butuh Ibu," kata Rudi. "Dan siapapun yang bisa mengancam itu akan tersingkir sendiri."

Tini tidak menyangkal. Dia hanya berkata pelan, seperti mengutip sesuatu yang sudah lama dihafalnya: "Alam tidak menolak. Alam hanya mengingat."

Rudi membayar tehnya dan berdiri. Di pintu warung dia berhenti sebentar.

"Ibu tidak menyesal?"

Tini sudah kembali pada nasi pecelnya dan tidak mendongak.

"Menyesal. Tapi bukan untuk alasan yang Bapak kira."

Rudi menulis laporan itu selama dua malam di kamar losmen dekat Malioboro. Tiga kali dihapus dan ditulis ulang dari awal. Masalahnya bukan pada fakta — semuanya ada. Masalahnya pada siapa yang akan percaya bahwa lima pegawai pemerintah mengundurkan diri bukan karena tekanan atau suap, tapi karena seorang sekretaris paruh baya membakar rambut di pematang sawah Bantul malam Jumat Kliwon.

Laporan yang akhirnya dia kirimkan menyimpulkan satu kalimat: tidak ditemukan bukti tindak pidana yang dapat dituntut secara hukum. Pengunduran diri bersifat sukarela.

Kasus ditutup.

Yang tidak dia tulis dalam laporan itu adalah apa yang terjadi malam sebelum dia pulang. Dia tidak bisa tidur, bukan karena memikirkan kasus, tapi karena di sudut kamar penginapannya ada sesuatu. Bukan sosok, bukan siluet. Hanya perasaan bahwa ada sesuatu yang berdiri di sana dan memandangnya dengan kesabaran yang sangat tua. Rudi menyalakan lampu dan merokok sampai pagi.

Dan ketika bus membawanya keluar dari Yogyakarta keesokan siangnya, ada sesuatu yang tidak bisa dia namakan, seperti benang yang sangat tipis terulur dari dadanya ke arah selatan, ke arah kota yang mengecil di balik jendela, ke arah perempuan yang pasti sedang duduk di mejanya sekarang, menyusun jadwal rapat besok, mengangkat telepon dengan nada yang tidak pernah terlalu ramah dan tidak pernah terlalu dingin.

Rudi tidak pernah kembali ke Yogyakarta. Setidaknya itulah yang selalu dia katakan pada dirinya sendiri.

Semua nama dan jabatan dalam cerita ini adalah fiksi. Ritual Rambut Sewu dalam bentuk aslinya adalah laku spiritual komunal masyarakat Jawa yang bertujuan menjaga keseimbangan alam, bukan ritual gelap. Penyimpangan Rambut Sewu Wengi dalam cerita ini adalah konstruksi fiksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)