nisaahani: Health
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2019

Jangan Biarin Numpuk, Gunakan Dulcolax untuk Atasi Susah BAB Selama Bulan Puasa

Alhamdulillah kita masih di kasih kesempatan bertemu bulan Ramadhan. Tentunya kita berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya selama sebulan penuh ini dengan aktifitas yang menghasilkan pahala dan pengembangan diri.

Tapi namanya manusia kan ya. Walaupun di bulan ini kita di wajibkan menahan segala amarah, hawa nafsu, dan makan minum di siang hari, kadang tetap weh ada saja khilaf-nya. Termasuk kabita aka kalap membabi buta dengan makanan tak sehat ketika buka puasa, yang berujung kemungkinan susah BAB. Hehe. Makanya kali ini saya pengen share tentang menjaga kesehatan pencernaan saat berpuasa atau curhat saja sih tentang kehidupan saya. :p

Cekidots.

Saya sebenernya sejak pertengahan tahun 2016 sudah beberapa kali mencoba konsisten detoks makanan dan beberapa kali berhasil. Tapi harus diakui lebih banyak bandelnya dari pada berhasil detoks. Ya gimana ya, makan sayur dan buah tiap kali makan serta meminimalisir makan/minum olahan susu/kacang/makanan yang digoreng dan minim makan pedas/manis itu agak sulit. Hehe.

Sedangkan untuk tahun 2019 ini, mulai beberapa bulan lalu saya sudah mulai tertib detoks walaupun terkadang kalau kondisinya tidak memungkinkan ya tetap dimakan saja sih segala pantangan. Tapi detoks saya makin ambyar ketika memasuki bulan puasa. Karena ibu saya jual dan menerima pesanan aneka takjil yang menggugah selera setiap hari. Kan jadi tergoda. ><

Walaupun alhamdulillah hampir setiap hari laku tak bersisa, tapi kan kadang masih ada sisa sedikit dan bahan masakannya ada di kulkas. Saya jadi curi-curi kesempatan makan gorengan berbumbu kacang melimpah hampir tiap hari. Ups khilaf tapi tiap hari. haha. Kadang malah saya goreng dan racik bumbunya sendiri untuk cemilan tengah malam.

Selain itu, tingkat kemalasan makan sayur dan buah jadi rawan meningkat. Walaupun tetap berusaha makan. Andewww detokskuh... Tapi alhamdulillah-nya ada yang masih rutin dan tidak bolong-bolong, yaitu minum jus buah minim bahkan tanpa gula.

Detoks yang saya lakukan itu sebenarnya agar bebas jerawat, kulit dan badan jadi terawat tanpa banyak effort serta mata biar tidak nambah minusnya. Intinya biar sehat dan penampilan oke lah.

Tapi ketika datang ke acara Blogger Gathering Dulcolax X Fimelahood, ternyata yang saya lakukan itu bagus juga untuk mengatasi sembelit/susah BAB, loh. Uyeah...


Alhamdulillah ya jika detoks rajin makan sayur dan buah yang sudah saya lakukan ternyata bisa menjadi tips mencegah sembelit/susah BAB, khususnya pada saat berpuasa.

Apalagi saya sekeluarga memang doyan dan nyetok yoghurt. Jadi, alhamdulillah kalau bahas pencernaan, pencernaan kami sekeluarga tidak terlalu masalah sih, lancar malahan. Karena setiap hari pup. Hehe.

Kalian cobain juga deh detoks seperti saya. Itu saya tau dari dokter klinik kecantikan kok. Jadi, sepertinya aman. Tapi jika kalian sudah terlanjur sembelit/susah BAB. Kalian bisa minum Dulcolax, salah satu merk obat pencahar.

Apalagi Dulcolax tersedia dalam bentuk tablet dan supositoria, yang bisa dimasukkan melalui anus (kalau ada bentuk lain, please lemme know with comment on below). Tinggal sesuaikan kalian mau yang mana dan Dulcolax pun telah diproduksi lebih dari 60 tahun. Jadinya, bisa banget nih jadi obat andalan kalau sembelit. Jangan biarin sampai numpuk.

Betewe ini ciri-ciri sembelit ya: sulit buang air besar, feses kering atau buang air keras, BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, perut terasa penuh, sakit perut, BAB berdarah atau keluarnya darah setelah BAB, merasa tidak puas setelah BAB atau merasa ada yang tersumbat. Hayo, ada tidak di kalian? Kalau tidak ada, alhamdulillah.



Nah, selain makanan dan rajin minum air putih, pastikan istirahat dan kodisi psikologis kalian cukup baik ya. Karena ternyata itu juga bisa mempengaruhi susah atau tidaknya pup. Jangan stres, beb. Let it go aja, lagi puasa. *pakai nada ala incess. Hehe.

Kurang lebih itu sih cerita pentingnya mejaga kesehatan pencernaan dan tips mencegah sembelit/susah BAB pada saat berpuasa. Semoga membantu. See yaaa...

Salam,


Hani, yang menahan diri dari pesona gorengan.

Minggu, 05 Mei 2019

Turunkan Kolesterol dengan Nestle Acticor, Gaya Hidup yang Sehat serta Olahraga Teratur | Live Heart First

Tahukah kalian bahwa jantung koroner, stroke, dan hipertensi adalah beberapa penyebab kematian tertinggi di Indonesia? Dan tahukah kalian, bahwa penyakit jantung koroner bisa menyerang dari umur 25 tahun? (Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak mesti tua untuk terkena penyakit, sekarang bisa siapa saja. Apalagi jika gaya hidupnya tidak sehat, rendahnya konsumsi buah dan sayur, jarang olahraga/kegiatan fisik, ditambah lagi stres, itu semua bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Terus kita mesti apa? Ya hindari lah penyebabnya! Mulai dari sekarang coba bangun dan beraktifitas fisik jika kondisinya tidak memungkinkan untuk olahraga. Istirahat yang cukup. Langsung minum air putih sesegera mungkin yang banyak. Mengurangi asupan lemak jenuh dan trans-fat. Lalu, pilih makan yang sehat dan berserat tinggi. Karena menurut penelitian mengonsumsi serat pangan sebanyak 7 gram/hari dapat menurunkan risiko penyakit jantung sebanyak 9%. Pokoknya gimana caranya punya gaya hidup yang sehat, aktif, produktif, dan bisa menghasilkan banyak uang. Haha.

Jika gaya hidup sehat dan olahraga teratur terlalu sulit dilakukan sendirian, kalian bisa melakukan bareng orang terkasih atau minta mereka dukung kalian. Kan banyak tuh olahraga couple kaya di yutup. Sok praktekan, biar makin semangat. Haha. Kan sehat dan hidup akur bareng dalam waktu yang lama tentunya jadi salah satu target bareng inner circle. 

Untuk olahraga-nya, kalian bisa olahraga aerobik seperti berenang, bersepeda, berlari, senam lantai atau zumba untuk olahraga sehari-hari. Atau kalian bisa melakukan olahraga anaerobik seperti angkat beban.

Eh tapi, jika kalian alone bingits. Kalian bisa coba datang ke CFD (Car Free Day). Kali saja ada kegiatan seru, seperti tanggal 28 April 2019 lalu. Yap, minggu lalu ada acara HeartFest yang di selenggarakan oleh Nestle. Dalam acara ini, selain ada pemeriksaan BMI, heart age, tes kolesterol, dan tekanan darah. Ada pula olahraga bareng, nonton Maliq & the essential, dan pengenalan produk Nestle Acticor.

(Acara HeartFest, #LiveHeartFirst)

Nestle Acticor bantu turunkan kolesterol

Sudah tau tentang minuman Nestle Acticor yang mengandung susu rendah lemak dan serat pangan larut (Beta Glucan dan Insulin) belum? Mungkin kalian masih agak asing sih ya. Gapapa. Saya coba jelaskan secara singkat ya.

Nestle Acticor adalah produk baru Nestle yang klaimnya bisa membantu menurunkan kolesterol. Karena ada Beta Glucan yang berasal dari oat dan ada kandungan insulin yang berasal dari chicory roots. Serat pangan larut ini pun sudah diuji secara klinis mampu menurunkan kadar kolesterol.

Selain itu, Nestle Acticor juga mengandung vitamin B1 dan B2 yang berperan sebagai koenzim yang bisa mengubah karbohidrat menjadi energi. Botolnya pun praktis, tinggal minum 2x sehari setelah makan.





Untuk rasa yang tersedia, ada 4 rasa, yaitu alpukat, pisang, cokelat, dan green tea-latte. Tapi saya dapatnya yang alpukat dan cokelat saja. Jadi belum mencoba yang rasa green tea-latte maupun pisang. Untuk rasanya, bagi saya, mirip kaya susu botolan lainnya. Tapi tidak menyangka manfaat dari kandungannya begitu baik.


Selain itu, dari acara tersebut, saya mendapatkan Nestum juga. Yaitu, sebuah bubur sereal multigrain. Wah, pulang-pulang jadi makin sehat nih. Sudah olahraga bareng, di kasih makanan dan minumannya sehat pula. Sangat mendukung GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) sekali. Hehe.





Oke deh, segitu dulu sharing-nya.

Ingat ya bebs, jadi sehat dan bermanfaat itu penting. Makanya dijaga atuh badannya. Toh selain sehat, bonusnya badan kalian jadi makin kece dan tentunya bikin orang makin cinta. *eh

Salam,


Hani, yang selain berusaha body goals, juga berusaha sehat produktif bermanfaat dan menghasilkan banyak uang. Aamiin. Haha.

***
Catatan penting: tulisan ini bukan sekedar dibaca, tapi dipraktekkan!

Minggu, 21 April 2019

Imunisasi itu yes or no? | Hasil Temu Blogger Pekan Imunisasi Dunia (PID) Tahun 2019


Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 April 2019, saya ikut acara Temu Blogger dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di momen Pekan Imunisasi Dunia bareng pembicara yang handal di bidangnya.


Tapi tentunya kali ini, saya share tentang imunisasi pure dari sudut pandang saya dari hasil acara ini. Jadi, kalau dirasa gimana gitu, ya sudah ya, tidak usah di permasalahkan. Karena terkadang pendapat orang tidak mesti sama. Komen saja dengan baik, beda pendapatnya dimana.

Oke, let's start it...

Imunisasi

Imunisasi adalah proses untuk membuat seseorang imun atau kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut. (kata gugel)

Dan imunisasi ada dua tipe, imunisasi pasif dan aktif. Jika, imunisasi pasif berarti sebuah proses pemindahan/transfer antibodi ke dalam tubuh. Sedangkan, imunisasi aktif (vaksinasi aktif) artinya adalah tindakan untuk merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh dengan cara memasukkan vaksin yang berisi antigen (kuman/bagian kuman yang dilemahkan atau dimatikan) yang berfungsi untuk merangsang terbentuknya kekebalan dalam tubuh. (kata drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid di slide presentasinya)

Jadi, bisa di bilang, ini proses preventive terhadap kesehatan kita biar tetap sehat terus. Karena menghasilkan imunitas dan mencegah penyakit yang menyebabkan kematian/kecacatan.

Tentunya kita mau sehat terus lah ya. Nah, bagi negara, imunisasi ini yang di klaim bisa menghindari penyakit sekitar 80%-95%, mencegah beban masyarakat seumur hidupnya, memutuskan transmisi penyakit, menurunkan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit,dan tidak menularkan penyakit. (dikutip dari slide presentasi Cissy B. Kartasasmita Ketua Satgas Imunisasi PP IDAI). Jadi, bisa dibilang, dengan imunisasi bisa bikin kita dan lingkungan sehat terus lah gitu.

Jenis-jenis imunisasi

Imunisasi lengkap itu terdiri dari: Hepatitis B, BCG, Polio tetes 1, DPT-HB-Hib 1, Polio tetes 2, DPT-HB-Hib 2, Polio tetes 3, DPT-HB-Hib 3, Polio tetes 4, Polio suntik (IPV), Campak-Rubella, DPT-HB-Hib, DT, dan Td. 

Penyakit yang bisa dicegah

Memang sih ASI, makanan pendamping ASI, perbaikan gizi, suplemen, kebersihan perorangan, sumber air, dan lingkungan, sangat berperan pula terhadap kesehatan. Tapi imunisasi di klaim bisa mencegah tuberkulosis, kanker hati, difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, pneumonia, meningitis, diare, radang otak, demam berdarah, radang selaput otak, anjing gila, campak, rubela, gondongan, pneumonia, meningitis, bakteremia, cacar ari, tifoid, hepatitis A, kanker serviks, dan lainnya yang mungkin tidak tersebut oleh saya.

Siapa saja yang harus imunisasi?

Biasanya sih bayi baru lahir sampai dengan anak umur 12 tahun. Tapi sebenernya siapapun bisa imunisasi ya, bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu hamil, lansia, apalagi orang yang sering berpergian ke daerah rentan penyakit. Dan imunisasi-nya di sesuaikan umur. Tapi memang ada beberapa vaksin khusus anak-anak. Jadi, jika orang dewasa terlewat vaksin ya sudah tidak bisa lagi.

Bisa mendapatkan imunisasi dimana?

Kalian bisa mendapatkan di berbagai fasilitas kesehatan, seperti posyandu, puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, klinik dokter praktik swasta, klinik bidan praktik mandiri, fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan lainnya serta sekolah-sekolah pada pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Dan kalian bisa dapat imunisasi gratis, jika di fasilitas kesehatan pemerintah, selain itu bayar dikit ya. Hehe.

Undang-undang

Ternyata... ada Permenkes-nya di Permenkes No. 12 Th 2017. Yang berbunyi, imunisasi program adalah imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Sedangkan, imunisasi pilihan yaitu imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari penyakit tertentu.

Nyoh, sudah ada undang-undangnya. Berarti sudah dikaji lah ya imunisasi ini baik buruknya sebelum di kasih ke masyarakat. To be honest, saya tipe yang berusaha taat peraturan. Jadi, tiap ada kebijakan, yang saya cari itu undang-undang atau peraturan yang di berlakukan. Karena saya mah percaya saja. Jika ada yang salah dengan peraturan, ya biarlah dosa di tanggung mereka. Setidaknya, sikap taat pemimpin sudah saya terapkan.

So, yes or no?

Sangat yes, jika terkena penyakitnya dan tidak ada obat lainnya. Tapi ketika sedang baik-baik saja, tidak sakit, saya masih lihat nanti. Karena sejujurnya saya tipe penganut pencegahan dan pembentukan imun anak cukup dari ASI ekslusif dari lahir sampai umur 2 tahun. Tapi karena katanya ada peraturan masuk sekolah yang melampirkan daftar imunisasi lengkap dan saya malas banget ribet, saya mungkin akan memberikan imuniasi lengkap untuk anak saya.

Memang sih, definisi barang halal haram tidak terbatas pada dzatnya, melainkan juga di dalam proses produksinya. Tapi kalau tidak ada bahan lain, seperti vaksin IPV untuk anak-anak yang menderita immunocompromise. Tentunya, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal. (kata Dr. HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat)

Tapi kalau tidak wajib dan tidak merepotkan ke depannya, mungkin saya tidak memberikan imunisasi. Masih lihat nanti sih, di zaman anak saya nanti kebijakannya bagaimana. Sekali lagi, itu karena saya tipe yang berusaha taat pemimpin, jadi saya ikut kebijakan saja. Pokoknya, saya percaya saja program imunisasi sudah di kaji detail oleh orang-orang kompeten di bidangnya.

Agenda PID

Btw, jika, kalian tertarik mengikuti serangkaian program PID, kalian bisa ikut jadwal ini ya:
1. Lomba karya tulis oleh jurnalis pada bulan Maret–April 2019
2. Lomba karya tulis ilmiah oleh profesi pada Februari–April 2019 
3. Temu Blogger tanggal 15 April 2019
4. Lomba mewarnai dan story telling tentang imunisasi di sekolah–sekolah pada bulan Maret April di Provinsi DKI Jakarta
5. Peringatan Puncak Pekan Imunisasi Dunia 2019 pada tanggal 23 April 2019
6. Mobilisasi massa seperti melakukan senam sehat dengan latar belakang musik jingle imunisasi di fasilitas umum lapangan kantor Dinas Kesehatan, Puskesmas atau lapangan terbuka. Kegiatan ini diharapkan dilakukan serentak diseluruh daerah pada akhir pekan setelah puncak perayaan Pekan Imunisasi Dunia 2019–Tanggal 26 April 2019
7. Jalan Sehat bersama keluarga (peserta siswa/I Sekolah Dasar/Madrasah/Sederajat dan keluarga, Guru, dll) di Lapangan Monas tanggal 28 April 2019
8. Temu Ilmiah Bersama IDAI pada tanggal 30 April 2019



Oke deh. Sudah dulu ya sharing tentang imunisasi, sudah tau juga kan sikap saya ke imunisasi. Haha. Penting banget kayanya. Dadahhh... Doakan saya dapat suami yang cerdas dan mau di cerdaskan ya. Muah.

Salam,


Hani, calon ibu bijak, cerdas, cantik, berprestasi nan membanggakan. Aamiin.

Jumat, 12 April 2019

Bersama Mencegah Stunting Pada Anak-anak di Indonesia

(Sumber foto: gugel)

Agar tumbuh kembang anak-anak dapat terjaga, pemberian gizi kepada anak-anak perlu amat sangat diperhatikan. Sebab, gizi yang diberikan kepada anak-anak bisa menunjang tumbuh kembangnya agar berjalan secara optimal. Selain itu, pemberian gizi yang optimal juga bisa mencegah anak-anak dari bahaya penyakit dan stunting.

Stunting merupakan kondisi dimana anak-anak mengalami gagal tumbuh dan berkembang secara normal. Umumnya, gejala stunting terlihat saat anak-anak tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak pada umumnya. Hal tersebut perlu diwaspadai betul mengingat anak yang mengalami stunting akan mengalami kesulitan untuk menggapai cita-citanya kelak.

Agar anak-anak terhindar dari stunting, pemberian gizi yang lengkap dan optimal perlu sangat diperhatikan. Sayangnya, hingga saat ini belum semua anak-anak mendapatkan gizi yang optimal dan masih banyak anak-anak yang mengalami stunting. Hal ini perlu dicegah segera agar anak-anak bisa tumbuh sehat dan berkembang secara normal sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Dalam upaya mencegah stunting pada anak-anak di Indonesia, peran pendekar anak sangatlah penting. Sebab, dengan kehadiran pendekar anak, anak-anak akan terbantu dalam hal pelayanan kesehatan dan bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih layak. Selain itu, cara untuk menjadi pendekar anak juga sangatlah mudah berkat kehadiran situs penggalangan dana yang terpercaya seperti UNICEF Indonesia.

Menjadi pendekar anak bersama UNICEF Indonesia sangatlah mudah. Anda bisa melakukan donasi melalui website resmi donasi UNICEF Indonesia di laman https://www.supportunicefindonesia.org/. Kemudian, pilihlah jenis donasi yang diinginkan apakah ingin menjadi pendekar anak setiap bulannya atau satu kali saja. Jika ingin memberikan dampak besar bagi anak-anak Indonesia, maka menjadi pendekar anak setiap bulannya bisa menjadi pilihan yang tepat.

Dengan melakukan donasi setiap bulannya, manfaat tidak hanya dirasakan oleh anak-anak Indonesia melainkan juga kepada para pendekar anak. Sebab, sebagai pendekar anak Anda dapat melakukan donasi secara otomatis di tiap bulannya lewat fitur autodebet yang tersedia. Selain itu, Anda juga akan mendapatkan laporan perkembangan donasi di tiap bulannya. Sehingga, Anda bisa memantau dan mengetahui seberapa efektif donasi yang telah disalurkan untuk mencegah stunting kepada anak-anak di Indonesia.

Salam,


Hani, yang belum jadi emak-emak, tapi concern sama anak-anak.

Kamis, 28 Maret 2019

Plester Tepat Untuk Luka Saat Memasak

Di era yang semakin modern ini, memasak bukan hanya kegiatan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga saja. Setiap dari kita pasti pernah melakukan kegiatan dapur sederhana seperti memasak air, memasak mie, hingga menggoreng telur.

Gunting atau pisau biasanya menjadi piranti yang paling sering digunakan saat memasak. Keberadaannya sangat dibutuhkan, misalnya untuk mencincang daging, mengupas dan memotong buah dan sayuran, mengiris bahan masakan seperti bawang, cabai, atau sekedar membuka bungkus makanan. Sebagian dari kita bahkan lebih memilih menggunakan pisau untuk sekedar memecahkan telur.

Meski sudah terbiasa menggunakan pisau dan gunting untuk membantu berbagai kegiatan dapur, tapi tetap perlu berhati-hati selama menggunakan kedua piranti ini. Sedikit saja lengah, kedua benda tajam tersebut bisa tanpa sengaja melukai tangan atau jari. Sayatan yang terjadi akibat penggunaan pisau ataupun gunting saat memasak atau mengolah makanan, bisa mengakibatkan luka sayat ringan, bahkan luka sayat yang cukup dalam. 

Maka dari itu, sangat disarankan untuk selalu menyediakan plester Hansaplast di dapur Anda, dan meletakkannya di tempat yang mudah Anda ingat dan sangat mudah dijangkau. Sehingga jika tiba-tiba terjadi luka sayat, bisa segera dibersihkan luka tersebut, mengeringkannya dengan tissue atau kain bersih, kemudian menutup luka tersebut dengan plester Hansaplast. Dengan tertanganinya luka secara cepat, tentunya bisa segera melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Sebagai informasi, dengan dibalutnya luka menggunakan plester Hansaplast, akan membantu mengurangi rasa perih pada bagian kulit yang terluka. Untuk lebih memaksimalkan penanganan dan penyembuhan luka, pemilihan plester sebaiknya juga disesuaikan dengan luka yang dialami. Untuk lebih jelasnya mengenai produk Hansaplast bisa cek di https://www.id.hansaplast.co.id/. Berbagai pilihan plester perekat luka dari Hansaplast tersedia banyak pilihan sesuai lebar dan letak luka.

Apabila pemilihan plester perekat luka sudah sesuai, perlu diperhatikan juga keadaan luka itu sendiri. Jika seiring berjalannya waktu luka tersebut mengalami gejala infeksi seperti timbul rasa nyeri, bengkak dan bernanah, segera konsultasikan kepada dokter untuk menghindari resiko yang lebih serius.

Salam,


Hani, yang lagi doyan masak.

Selasa, 19 Maret 2019

#IamTrulyWoman : Cara Mencegah Kanker Serviks

8 dari 10 orang pria dan perempuan diperkirakan akan terinfeksi HPV selama hidup mereka. Sudahkah kalian mencegah Kanker Serviks dengan vaksin HPV? 

***

Hayo, yang sudah siap menikah atau yang sudah menikah, pernah medical check up nggak? Karena siapa saja memang beresiko terinfeksi virus yang mudah menular ini. Cukup sekali kontak, jika di takdirkan tertular, maka akan terinfeksi HPV.

Apa itu HPV?


HPV (Human Papilloma Virus) adalah sekelompok virus yang dapat menyebabkan kanker serviks, kanker vulva, dan vagina, kanker anus, kanker penis, kanker mulut dan tenggorokan, kutil kelamin, dll.

Lebih dari 100 tipe HPV. Tapi tipe yang sering menyebabkan penyakit adalah tipe 16 dan 18, yaitu penyebab kanker serviks dan kanker lainnya. Sedangkan, HPV tipe 6 dan 11 dapat menyebabkan kutil kelamin.


Apa itu Kanker Serviks?


Namanya aja kanker ya, bok, pastinya salah satu penyakit. Nah, kanker serviks ini salah penyakit yang terjadi di leher rahim (daerah serviks), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dan vagina. Karena fungsi, lokasi, dan sifat selnya, serviks rentan terhadap infeksi HPV. 


Cara menular Kanker Serviks?

Dapat terjadi melalui rute seksual dan non seksual (jari/kontak kulit ke kulit, alat medis, ataupun dari ibu ke bayi yang baru lahir.

So, plis jangan asal "main" sana sini, karena resikonya besar. Dan bisa menular ke istri, lalu jika punya anak, tanpa bisa menolak, anak pun bisa terkena penyakit ini.

Buat yang mau menikah, juga pastikan kesehatan diri dan calon pasangan ya. Sebelum resmi ijab kabul, tentunya kesehatan lebih penting dari cinta kan? Itu pun kalo menikahnya karena cinta. *ups.

Efek terkena Kanker Serviks?

Kaga usah dijawab detail ya. Coba bayangin aja nih, sakit meriang aja bikin kita kaga enak badan apalagi kanker, yang lebih banyak butuh waktu, uang, tenaga, dan tentunya mematikan. Lebih enak sehat deh. Seriusan.

Kanker Serviks bisa di cegah?

Tentunya bisa. Karena kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang bisa di cegah. Kanker yang lain sebenernya bisa juga sih dicegah dengan lifestyle yang sehat, baik, dan benar. Tapi, kanker ini bisa dicegah secara lebih, yaitu dengan vaksin.

Vaksin HPV Quadrivalent memberi perlindungan dari HPV tipe 6,11, 16, dan 18. Vaksin ini digunakan jika mengharapkan perlindungan tambahan terhadap pre-kanker vulva, pre-kanker vagina, pre-kanker anal (yang disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18), dan kutil kelamin (yang disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11). Sedangkan, vaksin HPV Bivalent hanya melindungi dari HPV tipe 16 dan 18.


Kemudian, untuk pencegahan sekundernya, dapat dilakukan skrining. Dengan skrining, kelainan pada serviks dapat terdeteksi lebih awal. Lalu, perempuan yang memiliki skrining abnormal akan menerima pengobatan dan follow up. 


Ingat! Walaupun sudah divaksin, perempuan tetap harus menjalani skrining secara rutin sesuai jadwal anjuran dokter ya. Skrining yang standar untuk test pra-kanker dan kanker serviks adalah tes pap (Pap Smear) atau bisa juga tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) jika ingin lebih cepat dan murah. 

Kapan waktu terbaik untuk Vaksinasi HPV? 

Idealnya sebelum melakukan aktivitas seksual. Tapi, untuk yang sudah aktif melakukan aktifitas seksual, bisa juga vaksin ini.

Sebenernya, lebih aman, no sex before married sih. Yang udah nikah aja mesti main aman, nggak boleh "main" selain dengan pasangan halalnya, apalagi yang belum nikah. Inget ya, banyak ruginya sex before married.

Oia, vaksin bisa diberikan sejak umur 9 tahun. Yap, vaksin HPV Quadrivalent bisa diberikan sejak umur 9-45 tahun (untuk perempuan) dan 9-26 tahun (untuk laki-laki). Sedangkan, vaksin HPV Bivalent hanya bisa diberikan kepada perempuan berusia 9-25 tahun.


Untuk ibu hamil sebaiknya tidak melakukan vaksinasi ya. Namun, untuk ibu menyusui bisa melakukan vaksinasi HPV. Karena vaksin ini merupakan vaksin inaktif (tidak hidup) dan tidak mungkin menginfeksi bayi atau manusia.


Efek samping suntik Vaksin HPV?


Walaupun vaksin HPV memberikan efektifitas perlindungan hingga 93.2%-98.2% terhadap kanker serviks dan vaksin HPV kuadrivalen memberikan perlindungan tambahan 100% terhadap kutil kelamin. Suntik vaksin HPV biasanya memberi rasa nyeri di tempat penyuntikan. Selebihnya dinyatakan aman oleh komite keamanan vaksin WHO.



***
Dalam rangka Women Day, KICKS (Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks) di dukung penuh Plaza Indonesia, ingin mensosialisasikan kepada masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi HPV.

Dengan cara, melakukan sesi foto bareng beberapa public figure dan Diera Bachir (photographer), lalu dipameran hasil pemotretannya di Mall Plaza Indonesia, Jakarta.

Selain itu, dilakukan vaksinasi dua pubic figure di depan publik, yaitu Cinta Laura dan Yuki Kato. Dengan melakukan semua ini, diharapkan masyarakat aware dengan bahaya penyakit mematikan ini.







Sekian info yang bisa saya share dari acara #IamTrulyWoman di Plaza Indonesia pada tanggal 13 Maret 2019. Semoga bisa menambah pengetahuan kepada semua yang membaca. Ingat! Suntik vaksinasi HPV seharga 2jutaan lebih murah dibanding harus menghadapi penyakitnya. Dan jika sudah vaksin, coba ke dokter 2 bulan setelahnya. 

For more info, kalian bisa datang langsung ke dokter or cek di www.cegahkankerserviks.org . See ya...

Salam,


Hani, yang berusaha sehat, tajir, cantik, dan bahagia. Haha. Aamiin.

Rabu, 06 Maret 2019

#LiveWithRare : Senyum Tulus untuk Para Orang Tua dan Pasien Penyakit Langka

Salah satu momen di tanggal 27 Februari adalah Hari Penyakit Langka Sedunia. Mungkin belum banyak yang mengetahuinya, termasuk saya. Karena saya pun baru mengetahuinya ketika saya mengikuti sharing session bersama Sanofi Indonesia serta Yayasan MPS dan Penyakit Langka beberapa waktu lalu di Jakarta.



Di hadiri oleh Sasi, salah satu penderita penyakit langka; beberapa orang tua pasien penyakit langka; Ibu Peni Utami, Ketua Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia; Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA (K); awak media dan blogger, selama beberapa jam kita sharing tentang tantangan dan harapan para pasien penyakit langka di Indonesia.

Di sini, saya baru mengetahui bahwa suatu penyakit dikatakan penyakit langka jika penderitanya kurang dari 2.000 orang di suatu negara. Seperti, penyakit MPS II, penyakit Pompei, penyakit Gaucher, atau 7000 jenis penyakit lainnya. Walaupun begitu, penyakit ini menyumbang 35% angka kematian dan menjangkit 350 juta orang di dunia. Sedangkan, di Asia Tenggara sendiri 9% dari populasi atau sekitar lebih dari 45 juta orang menderitanya.

Penyakit ini mengancam kehidupan penderita, dan bersifat kronik serta progresif. Selain itu, penyakit ini sulit di diagnosis dan di obati, minim informasi tentang penyakit langka, membutuhkan banyak dokter spesialis, menjalani berbagai tes, terkendala sulitnya mengakses obat-obatan, ditambah lagi harga pengobatan yang tinggi, sehingga menyebabkan pasien penyakit langka memiliki kemungkinan angka kematian yang tinggi.

Untuk mendiagnosis penyakit penderita saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dikarenakan banyak tahapan sebelum di pastikan bahwa pasien benar-benar menderita penyakit langka. Belum lagi diagnosis awal yang sering tidak tepat, sehingga menyulitkan langkah penyembuhan sesegera mungkin.

Seperti, Ibu Fitri Yenti yang membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk mengetahui anaknya, Umar Abdul Azis, menderita penyakit MPS II. Atau Sukron, anak dari Ibu Amin, yang harus meninggal di usia 2 tahun 5 bulan, dikarenakan keterbatasan akses tenaga kesehatan sehingga terlambat di diagnosis dengan tepat.

Saat ini, memang baru Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta yang bisa menangani pasien penyakit langka dengan optimal. Di bantu Dr. dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA (K), pakar penyakit nutrisi dan metabolik anak, para pasien di diagnosis, di terapi, serta penanganan lain untuk membantu kesembuhannya.

Pengobatan untuk pasien penyakit langka memang diharuskan secara berkala, dikarenakan pertumbuhan dan progress kesembuhannya terancam tidak stabil jika tidak dilakukan terapi dan perawatan intensif berkelanjutan.

Uang yang tidak sedikit tentunya harus disiapkan untuk pasien penyakit langka. Salah satu orang tua pasien bercerita, dirinya mengelurkan sekitar 7 juta perbulannya untuk pengobatan anaknya. Sungguh, bukan biaya yang sedikit.

Tentunya keluarga pasien berharap di dukung secara mental dan materi dari segala pihak, agar tetap tersenyum tegar dalam menghadapi kehidupan. Walaupun mereka tetap bersyukur pemerintah membantu menghilangkan pajak dari obat-obatan yang mahal. Mereka juga berterima kasih dengan dokter yang membantu kesembuhan buah hatinya,  serta Yayasan MPS dan pemangku kepentingan lainnya yang memberikan bantuan donasi.

Lalu, apa yang bisa kita berikan kepada pasien penyakit langka dan keluarganya?

Jika kalian bisa memberikan bantuan berupa materi, tentunya itu sangat baik.  Bisa di berikan secara langsung maupun melalui Yayasan MPS. Dikarenakan Yayasan  MPS dan beberapa pihak terkait tetap membutuhkan donasi, demi berkelanjutan bantuan untuk pasien berpenyakit langka.

Jika, belum mampu berbagi secara materi, mungkin kalian bisa memberi yang paling simpel, kalian hanya perlu tersenyum tulus untuk mereka, tanpa merasa aneh. Karena walaupun beberapa dari mereka terlihat baik-baik saja, dibalik itu mereka mungkin mengalami disfungsi enzim atau sedang mengalami pembengkakkan limpa.


Sasi, salah satu penderita penyakit langka bersama Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA (K)

Para orang tuanya mungkin sedang rapuh karena tantangan hidupnya lebih banyak di banding orang lain. Tentunya tak sulit untuk kita untuk tersenyum dengan tulus dan tidak banyak komentar menyakitkan hati mereka.

Salam,


Hani

Jumat, 15 Februari 2019

#CegahDBD dengan Larvitrap, Alat Penangkap Nyamuk Hemat Murah Meriah dari Bahan Bekas.

Hai, udah ada yang tau tentang Lavitrap? Salah satu alat pembasmi nyamuk dari botol minuman bekas. Wah, kalau belum tau, baca tulisan saya selanjutnya yak! Bakal bahas ini dan mencoba menjabarkan cara bikinnya. Biar bisa di pakai di rumah, buat cegah nyamuk, apalagi nyamuk penyebab DBD. Hih atut ama nyamuk.


***
Sekarang-sekarang ini masih sering hujan. Walaupun biasanya musim hujan itu ada di bulan yang berakhiran -ber. Seperti, September, Oktober, November, dan Desember. Walaupun begitu, Januari dan Februari masih saja rutin hujan. Sehingga rentan banyak nyamuk dan penyakit DBD a.k.a demam berdarah.

Kenapa malah ketika hujan, nyamuknya malah semakin banyak? Karena walaupun masa hidup nyamuk sebentar, tapi nyamuk suka bertelur dan telur nyamuk menetas jika terkena air. Makanya itu, yuk dicek dan ditutup/dibersihkan tiap ada tampungan atau genangan air. Sekalipun itu air bersih. Biar tidak menjadi lahan perkembangbiakan nyamuk. 

Betewe, sudah tau kan sumber DBD? Yap, nyamuk Aedes Aegypti. Kalau kita tidak fit dan tergigit nyamuk pembawa virus dengue, besar kemungkinan bisa terkena DBD. Pokoknya kalau kalian terkena salah satu dari gejala DBD di bawah ini, langsung cek ya.

Ciri-ciri terkena DBD, biasanya akan mengalami gejala sebagai berikut:
1. Demam tinggi mendadak
2. Nafsu makan menurun
3. Sakit perut, sakit pada ulu hati, serta muntah.
4. Adanya pendarahan
5. Tangan dan kaki menjadi dingin serta lemas

Memang sih, jika badan panas bukan berarti langsung di vonis DBD. Tapi dengan segera menanyakan ke ahlinya, kita bisa terhindar dari fase selanjutnya. Demam lebih dari 3 hari, amannya kita minta cek trombosit.


***

Kalau sudah kejadian, ya sudah sabar, di obati, dan berharap sakitnya jadi penggugur dosa. Tapi kan amit-amit ya, jangan sampe. Kalau bisa sehat kan ya maunya sehat dan berkah kesehatannya.

Tapi sebelum kejadian, ada beberapa cara buat cegah DBD. Mungkin anak 90an paham bener nih sama 3M, menutup, menguras, dan mengubur. Tapi zaman now, bukan lagi mengubur. Karena di kubur rentan jadi genangan nyamuk. Oleh karena itu, M yang terakhir di ganti menjadi di olah kembali.

Dan untuk mencegah DBD, biasanya tiap daerah di adakan fogging masal. Walaupun pada kenyataannya, fogging disarankan jangan sering-sering. Karena residunya lebih banyak dari pada obat basmi nyamuknya. Nyamuk matinya nggak seberapa, nyesek bin engapnya lama bener. Hehe.

Lalu, biasanya di setiap daerah ada Jumantik alias Juru Pemantau Jentik. Tapi atulah kita mah mesti kesadaran pribadi. Karena kan ya rumah-rumah kita, lingkungan juga daerah kita, badan-badan kita juga yang mesti kita jaga, keluarga juga keluarga kita. Jadinya, usahain bisa menjaga sendiri lah. Kalaupun di bantu, ya sekedar bantuan, tidak sepenuhnya bergantung ke orang lain.

Untuk mencegah nyamuk, selain buat lingkungan bersih dan jangan ada benda bergantung, mungkin bisa menanam 10 tanaman seperti berikut ini:
1. Bunga tahi kotok (I don't know the real name. Maybe Marigold?)
2. Zodia
3. Bunga krisan
4. Bunga tembelekan
5. Bunga nanga
6. Bunga lavender
7. Serai
8. Serai wangi
9. Kayu putih
10. Kemangi

Dan bisa juga menaruh 2 Lavitrap di tempat gelap dalam rumah. Bisa di kamar tidur dan ruang tamu. Lalu di cek seminggu sekali dan jangan sampai terkena anak-anak. Karenaaa...becek kalau tumpah airnya. Hihi. Lagi ciyus ya bacanya.

Tenang aja gengs, lavitrap ini aman. Karena bahannya dari bahan bekas dan hanya menggunakan air biasa. Saya share ya cara bikinnya. Sebelumnya, siapin dulu bahan-bahan ini ya:
1. Botol air mineral yang 1.5 liter. Yang bekas aja biar go green. 
2. Steples
3. Kain kasa
4. Plastik bekas, kalau bisa warna hitam.
5. Lakban

Cara membuat lavitrap:
1. Buat botol jadi 3 bagian. Bagian atasnya, kurang lebih di 7 cm dari mulut botol.
2. Untuk bagian bawah, buang bagian bawah botol. Karena takut air tumpah, jadi bergenang.
3. Bagian tengah di bagi dua, untuk pengunci botolnya.
4. Terus bagian atas posisinya di balik. Tutup botolnya posisinya jadi di bawah.
5. Lalu, digabung dan rekatkan bagian atas yang sudah terbalik tadi dengan bagian bawah yang bagian bawahnya udah di buang dengan lakban.
6. Kemudian tutup dengan kain kasa
7. Supaya kencang gunakan bagian tengah. Steples jika perlu, biar kain kasa tak bergerak kemana.
8. Terakhir, biar rapi bungkus semua botol dengan plastik dan di lakban. 



Hasilnya seperti foto di atas. Semoga paham dan bisa dipraktekan ya. Lumayan loh pakai ini, jadi hemat. Tak usah beli obat nyamuk mulu. Palingan jika ingin menguras, kocok dulu botolnya. Agar sayap nyamuknya patah. Bisa kan ya? Bisa lah ya. Percaya kok percaya. Millenials mah pasti bisa. Hihi.


***

Mayoritas info yang saya share tau dari acara sharing, chatting, learning di Meet Up Healthies! bareng Menkes Bu Nila Moeloek, BBTKLPP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit), dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid Dir P2PTVZ, dan dr. Gia Pratama di Kantorkuu - coworking space di Agro Plaza Kuningan tanggal 7 Februari 2019.

Salam,


Hani, the healthies newbie.