Dalam rangka memaknai kembali kemerdekaan Indonesia di tahun ke-81 ini, perlu perenungan dan tukar pikiran untuk memaknai kembali kemerdekaan sebagai “jembatan emas" meraih cita-cita. Oleh karena itu, PARFI 56 dan
Dompet Dhuafa mengajak masyarakat merenung melalui Dialog Kebangsaan: Sebuah Cita Bernama Indonesia dan Pancasila
sebagai Nilai Dasarnya, dengan narasumber:
- Yudi Latif, Ph.D.
- Olivia Zalianty
- KGPH Ndaru Kusumo
Dan, moderatornya: Gaib Maruto Sigit
Dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan pada Jum'at, 14 Agustus 2026, ada beberapa poin yang saya tangkap, yaitu kekuatan kebudayaan dan gotong royong bisa menjaga kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Peran Seniman juga memiliki andil besar dalam membentuk identitas. Contohnya, pencetus sapaan "Bung" oleh Chairil Anwar dan slogan "Merdeka atau Mati" melalui mural/karya seni. Narasi kultural dan seni juga dianggap mengendap lebih lama dalam memori kolektif bangsa.
Para Bapak Bangsa, yang bisa dijadikan salah satu role model juga tidak hanya berjuang lewat jalur politik resmi, tetapi juga menanamkan gagasan besar dan nilai-nilai kebudayaan yang melintasi zaman. Mereka bukan sekadar figur sejarah dalam buku, melainkan kompas moral dan sumber inspirasi tentang bagaimana cara mencintai negeri ini dengan segala keberagamannya.
Musik pun dibuat sebagai Pemantik Rasa Patriotik Kebangsaan, seperti Syukur, Ibu Pertiwi, dll. Lagu mampu menggugah emosi, menyatukan rasa, dan terus diulang dari generasi ke generasi karena kedalaman maknanya. Tantangan para seniman dan kreator masa kini untuk melahirkan karya-karya baru yang tidak hanya populer dan modern, tetapi juga memiliki kedalaman rasa, jiwa nasionalisme, dan mampu menyentuh hati masyarakat Indonesia.
Pementasan Teater Merajut Sendja
Dompet Dhuafa bersama dengan PARFI56, pada tanggal 26 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta akan mengadakan Pementasan Teater Meradjoet Sendja. Dengan pengisi acara:
• Arswendy Bening Swara
• Marcella Zalianty
• Luthfi Ardiansya
• Tantan Ginting
• Jane Calista
• dll
Pertunjukan teater yang disutradarai oleh Olivia Zalianty, Meradjoet Sendja: Persembahan Cinta untuk Republik diangkat dari naskah-naskah perenungan Yudi Latif, Dewan Pembina Dompet Dhuafa, berupa dialog para tokoh-tokoh pendiri bangsa yang dikemas secara kolaboratif bersama aransemen lagu orkestra dan pertunjukan seni.
Terbagi dalam 5 babak. Dibuka oleh Siti Soendari yang hadir dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Salah satunya adalah janji untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Padahal Soendari saat itu hanya bisa Bahasa Belanda dan Bahasa Jawa. Untuk itu, beliau belajar bahasa Indonesia dan berpidato 2 bulan kemudian dalam Kongres Perempuan II
dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.
Lalu, diikuti dengan dialog antara Soekarno,
Hatta, dan Sjahrir mengenai Indonesia sebagai sebuah cita-cita. Kemudian, dialog hangat antara Soekarno dengan Tan Malaka
yang menginginkan Indonesia Merdeka 100%. Babak terakhir merupakan monolog
Soekarno tentang perjalanan Republik yang menyertainya dari masa muda hingga berakhir menjadi “tahanan rumah”.
Social Fund
Hasil penjualan tiket pementasan Meradjoet Sendja didedikasikan untuk Social Fund untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama para pekerja seni. Yuk, kalian nantikan Pementasan Teater Merajut Sendja!


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hehooo semuanya,
Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)