nisaahani: blogger yang suka sharing review: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), serta Kaitannya dengan Ekosistem dan Sumber Pangan

Sabtu, 31 Oktober 2026

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), serta Kaitannya dengan Ekosistem dan Sumber Pangan

Sumber: Pantau Gambut

Sumber: Pantau Gambut

Saya pertama kali tahu adanya 
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belasan tahun lalu karena teman saya tidak bisa mudik ke kota asalnya disebabkan penerbangan ditutup sementara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang begitu tebal. Karena saya jarang nonton tv dan dulu penggunaan internet belum semasif sekarang. Lalu, ketika bergabung menjadi EBS (Eco Blogger Squad), saya semakin tahu lebih dalam terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selain dari info di internet maupun media sosial. Sebab, EBS terus mendorong anggotanya memperluas wawasan dan menyebarkan informasi terkait isu lingkungan, apalagi saat ini masih terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, termasuk di kawasan gambut.

Di bulan Oktober ini saja, EBS berkolaborasi dengan Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity mengadakan Online Gathering bertajuk “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.” Dengan narasumber:
  • Yoga Aprilliano, Communications Lead Pantau Gambut 
  • Ahmad Arif, Jurnalis Kompas dan Pendiri Nusantara Food Biodiversity

Melalui isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), anggota EBS diajak memahami hubungan antara kondisi gambut, iklim, ekosistem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dampaknya terhadap biodiversitas, serta pentingnya keragaman sumber pangan bagi kehidupan masyarakat. Sekaligus mengingatkan ke pembaca dan followersnya untuk menjaga keberagaman sumber pangan di tengah perubahan iklim dan tekanan terhadap lingkungan.

Lahan Gambut Bukanlah Tanah Terlantar


Beberapa daerah di Indonesia, merupakan lahan gambut. Ada 24,2 juta hektar tersebar di Kalimantan, Sumatera, Papua. Menjadikan rumah bagi ekosistem gambut tropis terbesar di dunia.

Namun, menurut data Pantau Gambut pada tahun 2023, 16 juta dari 24,2 juta hektar lahan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) rentan terbakar. Bahkan, area seluas 243.241,08 hektare ditemukan telah terdeteksi terbakar di seluruh wilayah Indonesia sejak bulan Januari. Sebanyak 41 kabupaten dan kota dari 9 provinsi telah menetapkan status siaga darurat atau tanggap darurat untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.

Sumber: Pantau Gambut

Padahal ekosistem gambut terbentuk dari akumulasi organik dan menyimpan karbon dengan jumlah yang sangat besar dalam meregulasi iklim. Kebakaran di lahan gambut bisa menyebabkan asap terus-menerus. Karena api tetap dapat membara dan bertahan di dalam lapisan gambut untuk jangka waktu yang lama.

Lahan basah gambut yang terdegradasi juga tidak bisa kembali seperti semula. Sebab, ada perubahan hidrologi, struktur tanah, dan cadangan karbon yang telah terlepas ke atmosfer.

Kanalisasi Berlebihan Merusak Daya Dukung Hidrologis Gambut


Sumber: Pantau Gambut

Sumber: Pantau Gambut

Beda dengan tanah mineral yang hanya bisa menyerap air 0.2 kali, gambut bisa menyerap dan menyalurkan air hingga 13 kali. Kerusakan fungsi hidrologis akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kanalisasi akan merusak tatanan hidrologis gambut yang saling terhubung antar wilayah dan sungai utama.

Struktur gambut yang rusak dan mengering membuat kemampuan lahan untuk menampung air lenyap. Dengan hilangnya daya serap air menimbulkan ancaman bencana lanjutan, seperti memicu kekeringan, kebakaran, kabut asap, dan jika memasuki musim penghujan dengan intensitas tinggi berpotensi banjir besar. Karena luapan air tidak dapat ditampung lagi.

Keragaman pangan sebagai mitigasi dan adaptasi pada krisis iklim


Kondisi iklim seperti El NiƱo dan periode kering yang menyertainya dapat meningkatkan kerentanan terhadap karhutla. Karhutla juga perlu dilihat lebih jauh dari dampaknya terhadap asap dan emisi karena dapat mengganggu fungsi ekosistem serta keanekaragaman hayati yang bergantung pada lanskap tersebut. Dalam konteks yang lebih luas, kesehatan ekosistem dan biodiversitas juga memiliki keterkaitan dengan keberagaman sumber pangan serta resiliensi sistem pangan masyarakat. Sehingga, keberagaman pangan menjadi kunci penting kedaulatan pangan.

Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim


Saya senang dengan booming-nya kimpul, karena bisa mengingatkan masyarakat -termasuk saya- bahwa Indonesia punya kekayaan pangan lokal. Sehingga tidak mempunyai pola konsumsi monoton, hanya olahan beras dan singkong saja. Indonesia punya keberagaman hayati yang sangat kaya, seperti aneka jenis umbi-umbian, sagu, sorgum, sukun, dan pangan lokal lain yang makin jarang dikonsumsi atau bahkan tidak dikenal di generasi saat ini.

Sumber: Presentasi Nusantara Food Biodiversity

Tantangan kita bukan cuma mencegah stunting, tapi juga mencegah over weight, anemia dan defisiensi mikronutrien. Pola pangan tidak sehat dengan tinggi gula, garam, lemak, tidak mengonsumsi lima porsi buah dan sayuran sehari sebagaimana rekomendasi WHO (Unicef, 2021) menjadi pemicu utama berbagai penyakit kronis.

Mungkin kamu pernah lihat konten warga Papua yang nukar bahan pangan yang mereka punya dengan mie instan. Dari awal saya nonton, saya ngerasa kenapa ditukar ya? Padahal mereka sudah punya bahan pangan real food yang bergizi. Hmmm... apakah ini bentuk Gastrokolonialisme?

Untuk itu, pentingnya mengembalikan keragaman pangan Nusantara sebagai salah satu kunci kedaulatan pangan dan kesehatan ekosistem. Tidak lagi hanya bergantung pada satu atau dua jenis makanan pokok saja.

Bisa coba mengonsumsi sagu sebagai karbohidrat, diolah menjadi Sagu Gunting atau kuliner lain misalnya. Karena sagu bukan hanya makanan pokok masyarakat Papua, melainkan komoditas endemik yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Sagu juga bisa tumbuh dengan baik di ekosistem lahan basah dan gambut tanpa perlu dirusak lahannya atau dikeringkan.

Mari kita ubah stigma: belum makan kalau belum makan nasi. Berhenti juga menganggap mengonsumsi nasi sebagai bentuk kemajuan. Karena yang biasa mengonsumsi sagu atau umbi-umbian dianggap identik dengan ketertinggalan atau kurang mampu.

Dengan menghidupkan kembali kebiasaan mengonsumsi sagu atau makanan khas daerah (keberagaman pangan), kita bisa membantu mempertahankan hutan dan lahan, tidak dijadikan perkebunan sawit atau persawahan. Karena tidak lagi dianggap "lahan kosong". Bisa juga mengurangi impor bahan pangan. Gizi masyarakat juga bisa terpenuhi karena tidak harus membeli beras atau bahan pangan bergizi mahal yang harus didatangkan dari luar daerah.

Belajar dari Desa Boti


Desa Boti adalah Desa di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, termasuk suku Dawan (Atoin Pah Meto/orang dari tanah kering). Dengan iklim kering dan tanah berkapur, Desa Boti bisa memenuhi hampir seluruh kebutuhan pangan secara mandiri, tanpa ada kasus stunting.


Prinsip “menanam beragam tanaman, makan beragam pangan yang ditanam,” menjamin ketersediaan makan sepanjang musim dan kelestarian ragam hayati. Berikut prinsip-prinsip kedaulatan pangan Desa Boti:
  • Healthy: memastikan pangan yang sehat untuk semua orang
  • Resilient: terhadap krisis iklim, pandemi, guncangan ekonomi-politik
  • Inclusive: memenuhi kebutuhan untuk semua orang; petani kecil, perempuan, anak-anak, dll. Dengan anak-anak menjadi prioritas.
  • Sustainable: sehat untuk planet, menjaga kelestarian lingkungan dan keberagaman hayati. Sistem pangan menyatu dengan sistem budaya dan kepercayaan (pelestarian benih, pola tanam, dll). Menggunakan Sistem Agroforestry (wanatani) dan integrasi ternak, menjaga keragaman benih lokal, organik, pemanfaatan wildfood, dll.
  • Efficient: melayani seluruh rantai pasok secara efisien, mengurangi FLW (Food Loss and Waste)

Diversifikasi Pangan = Kunci!


Setelah mengetahui bahwa salah satu cara untuk menjaga hutan dan lahan adalah dengan diversifikasi pangan, anggota EBS di challenge untuk membahas umbi-umbian atau sagu-saguan yang mudah tumbuh atau ditemukan di daerah masing-masing untuk alternatif beras/nasi. Kalau di daerah saya, tentu yang paling gampang adalah singkong. Ubi jalar, talas, sagu juga ada, tapi beli di pasar. Sedangkan singkong, tanamannya pernah saya lihat di kampung-kampung sekitaran perumahan saya. Walaupun entah sekarang masih ada atau tidak. Karena sepertinya masyarakat kurang peduli untuk melestarikannya. Hiks.

Meski begitu, trend kukusan ikut membantu kembalinya kebiasaan mengonsumsi singkong rebus. Dikonsumsi bareng telur rebus dan salad ber-dressing jeruk nipis plus dada ayam rebus. Beuh, enak!

Trend menu gabin juga meningkatkan konsumsi tape, yang mana itu asalnya dari singkong. Isian gabinnya dari tape, yang dicampur susu dan keju. Singkong bisa juga dibuat jadi menu cemilan mata roda, comro, misro, dan lainnya.

Kalau singkong dimakan dengan lauk rumahan jujur saya belum pernah, tapi setelah saya searching sepertinya kapan-kapan saya mau coba singkong rebus dimakan dengan opor ayam dan sambel bajak. Atau, singkong rebus dimakan bersama tumis daun singkong. Sepertinya enak!

Nah, kalau di daerah kamu apa nih yang bisa jadi alternatif pengganti nasi/beras? Yuk, share juga! Karena dengan diversifikasi pangan, selain menjaga hutan dan lahan, menjaga ekosistem, menjaga keanekaragaman hayati, juga mendukung ketahanan pangan, terutama di tengah perubahan iklim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)