Rabu, 19 Desember 2018

Saya adalah Generasi Milenial yang Jarang Bawa Uang Tunai

“Bayarnya bisa pake debit atau uang elektronik, Mba? Soalnya saya tidak bawa uang tunai banyak.”

Kalimat ini jadi favorit saya beberapa bulan terakhir, jika melakukan transaksi offline. Karena semenjak bisa menghasilkan uang sendiri, jarang sekali saya membawa uang tunai banyak. Saya hanya menyediakan kurang lebih seratus ribu rupiah di dompet. Dengan anggapan meminimalisir stok uang tunai di dompet, meminimalisir pula pengeluaran bulanan.

Apakah itu berhasil? Sejauh ini sih berhasil. Selama saya menghindari berkeliling mall atau hangout bareng teman-teman terlalu sering. Walaupun sebenernya saya tipe yang lumayan bisa bertanggung jawab dalam penggunaan uang. Tapi saya rasa menyediakan uang tunai secukupnya bisa jadi cara efektif mengurangi pengeluaran. Selain itu, saya merasakan lebih cepat dan lebih mudah dalam bertransaksi. Tidak lagi ribet harus menghitung dana yang akan dikeluarkan.

Kalau ada yang bilang, malah makin tergoda untuk menjadi konsumtif jika stok uang elektronik dan kartu debitnya banyak. Ya bagi saya itu sih tergantung pribadi masing-masing. Tinggal pintar-pintarnya kita sebagai pemilik.

Terus, kalau ada yang meragukan keamanannya, entah keamanan datanya atau disalahgunakan kartunya. Ya, bismillah aja. Dilihat saja tempat transaksi dan kasirnya. Kalau ada yang mencurgikan langsung lapor atau cerewetin saja. Biasanya akan malu sendiri mereka. Tapi beneran deh, mayoritas sekarang sudah aman bertransaksi. Karena sudah di awasi pihak-pihak berwenang, jadi kita lebih tenang.

Selain kartu debit, sebenernya kita bisa melakukan pembayaran dengan kartu kredit untuk kaitan APMK atau Alat Pembayaran Menggunakan Kartu. Tapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai kartu kredit lebih lanjut. Karena saya bukan pengguna kartu kredit. Saya hanya pengguna kartu debit, saya terlalu ngeri menggunakan dana yang bukan dari dana simpanan saya sendiri.

Masalah penggunaan kartu debit selesai, saya sudah bisa menaklukannya. Nah, sekarang yang sedang booming juga adalah transaksi menggunakan uang elektronik. Jika dahulu kartu elektronik yang saya tahu hanya bisa digunakan untuk transaksi bus transjakarta atau krl. Sekarang sudah banyak lagi transaksi menggunakan uang elektronik ini. Sistem penyimpanannya juga sudah canggih. Jika dulu menggunakan berbasis chip, sekarang menggunakan berbasis server juga ada. Jadi, kita bisa membayar ojek online dengan menggunakan uang elektronik ini. Bahkan sekarang bisa untuk membeli beberapa produk dan makanan, dapat diskon atau cashback pula.

Tentunya, ini menjadi tantangan lagi nih untuk saya sebagai konsumen. Karena jika tidak mengaturnya dengan baik, maka akan terjadi pemborosan. Karena tergiur diskon dan kemudahannya bertransaksi secara cepat.

Untuk itu saya membiasakan tidak menstok banyak saldo di uang elektronik, secukupnya saja. Karena selain menghindari kalap bertransaksi. Uang elektronik bukan termasuk simpanan, jadi tidak dijamin LPS dan uang elektronik mempunyai batas maksimum saldo.

Dengan mengetahui lebih banyak ekonomi digital khususnya di masalah pembayaran dan tentunya mengetahui banyaknya kemudahan dalam bertransaksi, seharusnya kita sebagai generasi milenial lebih bijak dan bisa memanfaatkan dengan benar. Baik pembelian secara offline maupun online di e-commerce. Jadi, kalau mau bayar transaksi sudah terpengaruh saya untuk menggunakan non-tunai demi berhemat?

Jika tulisan ini berbeda dari biasanya, ini dikarenakan artikel ini di gunakan selain di blog ini.

1 komentar:

  1. akupun udh lama jarang banget bawa uang tunai banyak mba. sejak pernah kecopetan di bis hahahahha. kapoook banget setelahnya. ga mau lg bawa uang kemana2, mndingan bayar pake kartu ato e wallet kayak gopay, ovo .. lbh aman dan justru terkontrol pemakaiannya

    BalasHapus

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)