nisaahani: blogger milenial yang suka sharing review: Aku Bukan Jodohnya, Film Perdana Syakir Daulay

Jumat, 31 Desember 2021

Aku Bukan Jodohnya, Film Perdana Syakir Daulay

Kalian pernah gak sih bertanya ke Tuhan, "Apa aku jodohnya atau aku bukan jodohnya?", saat dekat dengan lawan jenis.

Biar lebih yakin gitu, apalagi kalau niatnya memang buat pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah. Meski, mungkin kalau udah bucin mah gas aje. Hehe.

Selian itu, pernah gak kepo bertanya ke orang-orang yang sudah menikah, "Dulu apa yang bikin yakin nikah sama pasangannya sekarang?"

Saya pernah dong! :p

Dan, jawaban dari Tuhan tuh mulai dari feeling sampai berasa dijauhkannya. Eh tapi, belum tau pasti juga sih. Namun berasanya gitu.

Sedangkan jawaban kenapa milih pasangannya, itu rata-rata jawabannya, "pacarannya sudah lama", "lihat dari pengorbanannya", "ngerasa cocok", dll.

Right person, right time sih saya nangkepnya. Alhamdulillah.

Aku-Bukan-Jodohnya


Kalau kalian yang sudah nikah, apa nih jawabannya? Tapi semoga apapun jawabannya, bismillah diniatkan untuk ibadah ya. Gak apa kok baru luruskan niat sekarang, daripada gak sama sekali.

Hadeuh, pagi-pagi udah ngomong jodoh. Haha. Namanya juga akhir tahun, jadi rewind atau menelaah ulang baik buruk tahun ini, dan membuat target baru ye kan? :D

Apalagi saya baru-baru ini nonton Film 'Aku Bukan Jodohnya'. Yasyudah, makin terbawa suasana kan. Emang nih ye, film cinta-cinta kadang bisa bikin bafffeeerrr... Hehe.

Film Perdana Syakir Daulay 'Aku Bukan Jodohnya'


Aku-Bukan-Jodohnya-film

Mungkin kalian gak asing sama nama Syakir Daulay. Yap benar, doi aktor dan masih berumur 19 tahun, kalau lihat di google sih. Masih muda bats.

Tapi yang bikin takjub. Si Syakir ini (duileh, berasa akrab manggilnya. Haha) sudah membuat film. Jadi, bukan hanya menjadi pemain, tapi juga sutradara dan penulis cerita. Diborong ya.

Syakir selama pandemi merasa ada keresahan tiap nonton (saya nangkapnya gini saat press conference). Berasa ada yang kurang aja gitu. Seharusnya selesai nonton tuh ada 'sesuatu'.

Makanya itu, doi bikin film sendiri yang dibuat ada makna atau nasihatnya. Biar setiap penonton yang lihat, nambah value baru.

Meski perdana, pemain yang berperan di film 'Aku Bukan Jodohnya' gak sembarangan. Ada Mbak Cut Mini dan Om Donny Alamsyah dong. Wew.

Entah kenapa tiap lihat Mbak Cut Mini di film tuh feeling, vibe filmnya bakal ada suasana keluarga. Soalnya doi berasa kayak ibu-ibu baik aja gitu. Haha.

Berikut pemain serta perannya di film 'Aku Bukan Jodohnya':
  • Syakir Daulay sebagai Bagas
  • Ica Maysha sebagai Nadhira
  • Zikri Daulay sebagai Ahmad
  • Cut Mini sebagai Ibunya Bagas
  • Donny Alamsyah sebagai Bapaknya Bagas
  • Arry Febrian sebagai Bapaknya Nadhira
  • Hesti Putri sebagai Ibunya Nadhira
  • Cut Ashifa sebagai Dilla
  • Boah Sartika sebagai Desti
  • Rahmat Ababil sebagai Memet
  • Muhammad Khalil "Tok Tok" sebagai Kewel
  • Hassan Jafar Umar Assegaf

Untuk ceritanya kalian bisa googling atau nonton langsung di Maxstream. Ini sudah ada dari kemarin tanggal 30 Desember 2021.

Yang bisa spoiler-in di tulisan ini, cuma clue-nya: Film romance religi. Cinta-cintaan syariah anak muda lah kituh. Hehe.


Review Jujur Film 'Aku Bukan Jodohnya'


aku-bukan-jodohnya-langsung

Eits tenang, meski saya tidak spoiler ceritanya, saya bakal review sejujur-jujurnya. Gak apa ya, Kir, (ceritanya panggilan akrab ke Syakir. Haha) kali aja review saya ini membuat kemajuan di karya selanjutnya. :)

Kelebihan


Tidak terlalu terasa film perdana


Ini ya, kalau mc atau google gak ngasih tau bahwa ini film pertama Syakir Daulay, saya mungkin gak tau. Dari pemain, poster, vibe dll tidak terlalu mencerminkan itu.

Sekilas gak terlalu kerasa bedanya sama film Indonesia yang pernah saya tonton sebelumnya, yang mungkin sutradaranya lebih berpengalaman.

Ceritanya banyak yang relate


Katanya sih ini film diangkat dari kisah nyata. Mungkin itu yang bikin film ini menyentuh atau minimal mau curcol kayak saya sebelumnya. Hehe.

Bahkan pas menuju ending, yang duduk di deretan depan saya sampai ada yang sesegukan. Saya sih cukup berkaca-kaca. :p Tapi emang sih, bikin kzl zdh gitu. :(

Beneran dikasih ilmu


Dari dialognya dan jalan ceritanya emang sih terlihat banget Syakir pengen menyisipkan 'nilai yang baik'. Sangat khas anak muda yang harapannya bisa merubah seseorang.

Prospeknya sepertinya menjanjikan


Kalau ini bukan hanya komen filmnya ya, tapi juga ke Syakirnya sendiri. Saya ngerasa, Syakir ini meski baru terjun jadi sutradara tapi canggih juga nih.

Filmnya lumayan banget buat pemula dan udah banyak kerjasama banyak pihak untuk umur segitu menurut saya. Mungkin semakin berpengalaman, makin lebih keren.

Bisa pula ditonton di Maxstreem filmnya, yang mana saya rasa ini tepat. Karena kemungkinan besar bisa memikat para pengguna aplikasi ini.

Doi juga sepertinya punya banyak fans. Jadi mungkin bakal banyak yang dukung.

Kemarin aja pas press conference, anak-anak muda (haha berasa saya sudah umur berapa gitu) banyak yang pada mesem-mesem, "Eh, itu Syakir!" bikin saya mau bilang "Cieee, Syakir. Ihiy." Haha. Berasa temen.


Kekurangan


Sound ngagetin


Ada beberapa scene yang sound-nya bikin kaget volumenya. Tiba-tiba gede sendiri. Agak ganggu sebenarnya.

Adegan dan dialognya monoton


Kalau boleh jujur, untuk sebuah film ini terlalu b aja. Bagus, tapi masih belum gong aja gitu. Nasihatnya sampai, tapi terlalu menggurui. Mungkin bisa dibungkus lebih halus lagi.

Namun buat di aplikasi Maxstreem, ini cocok sih menurut saya. Mayan buat pengisi waktu luang sambil bersantai. Tapi kalau untuk bayar mahal di bioskop, mungkin saya agak mikir-mikir dulu.

Ceritanya cuma itu aja


Punten banget ini mah ya. Saya gregetan, kenapa cerita dan ending-nya gitu. Berasa realistis sih. Kalah-menerima-mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kan tapi saya rasa bisa dibikin lebih bagus dan lebih dalam lagi. Pemain lainnya bisa dibuat lebih terlibat, tapi masih secukupnya saja.

aku-bukan-jodohnya-syakir-daulay

Apa lagi ya komen saya untuk filmnya ini? Hmmm... kayaknya segitu aja dulu sih. Karya buat pemula di umur segitu dengan waktu pembuatan 6 bulan mah udah mayan. Toh, belum tentu saya bisa. Hehe.

Btw, jangan terlalu diambil hati ya Syakir dan tim, diambil hikmahnya saja. Karena ini review semata-mata pemikiran pribadi saya.

Semangat ya. Semoga di karya selanjutnya lebih baik lagi! Karena semua expert pernah ada karya pertama.

Kalau ada film sekuelnya (Spill-nya sih gitu haha), berkabar lagi ya. Kali aja saya bisa ikut meramaikan dan memberi masukan yang membangun. Hehe.

Salam,


Hani


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)