nisaahani: blogger yang suka sharing review: Filasafat Aristoteles: Etika Filantropi

Selasa, 15 Desember 2020

Filasafat Aristoteles: Etika Filantropi

donasi wahana visi

Aristoteles (384-322 SM) adalah seorang filsuf Yunani yang memberikan kontribusi penting di dalam etika. Di kontribusi etika filantropi, Aristoteles menunjukkan kegembiraan yang kita alami ketika kita memberi untuk kepentingan orang lain.

Dia menunjuk bahwa keunggulan dan kegembiraan bukan demi kekayaan. Tetapi, kekayaan ada untuk kesempurnaan dan kegembiraan. Oleh sebab itu, dia mendorong untuk memberi agar menerima kegembiraan.

Karena donasi pendidikan, donasi sekolah, donasi kemanusiaan, dan donasi makanan adalah salah satu bentuk untuk memberi, saya akan memakai filosofi Aristoteles untuk menunjuk bahwa donasi bisa menghasilkan kegembiraan.

Aristoteles adalah murid Plato dan gurunya Alexander Agung. Setelah itu, dia menjadi pendiri sekolah yang bernama, ‘Lyceum’, yang berlokasi di Athena. Ayahnya Aristoteles adalah Nicomachus. Dia adalah tabib istana Raja Amyntas II di Makedonia. Ibu nya Aristoteles adalah Phaestis. Dia adalah seorang bidan.

Dalam seumur hidupnya, Aristoteles telah mengkontribusi banyak di banyak berbagai bidang. Etika Filantropi adalah salah satu kontribusi Aristoteles.

Filsafat ini mengajar bahwa kebahagiaan dapat dicapai saat seseorang membangun persahabatan dan komunitas. Karena fokus ajaran Aristoteles adalah untuk membantu orang lain, dia tidak mempromosikan keuntungan pribadi.

-----------------------------------------------------------------
Baca tulisan saya lainnya:
----------------------------------------------------------------

Ajaran Aristoteles ini berbeda dengan guru kontradiktif lainnya. Walaupun fokus filsafat Aristoteles adalah untuk membantu orang, filsuf ini juga mengajar bahwa tanpa mempunyai harta pribadi yang dihasilkan karena bekerja, seseorang tidak akan punya kapabilitas untuk memberi untuk membangun persahabatan dan komunitas.

Tanpa kepemilikan pribadi, Aristoteles mengajar bahwa seseorang tidak bisa mempraktekkan kemurahan hati dengan cara memberi kepada orang lain yang akan menghasilkan kebahagiaan.

Filsafat Etika Filantropi Aristoteles mengatakan bahwa kemurahan hati saat seseorang memberi saat ada yang butuh, dan bukan memberi karena dia cuman pengen memberi, akan menyebabkan kebahagiaan.

Salah satu bentuk memberi adalah donasi (https://wahanavisi.org/id/giving/gift_catalog). Salah satu isu di antara banyak isu lain yang membutuhkan donasi adalah untuk anak-anak kemiskinan. Saat ini, skala penderitaan yang anak-anak menghadapi karena kemiskinan adalah sangat besar.

Karena kemiskinan, banyak anak telah meninggal. Mereka mengalami kesulitan untuk membayar pendidikan, makanan, obat, dan lain-lain. Jika ada donasi pendidikan, donasi sekolah, donasi kemanusiaan, dan donasi makanan untuk anak-anak yang saat ini mengalami penderitaan, apakah donor-donor ini akan mencapai kebahagiaan? 

Aristoteles telah mengajar dalam Etika Filantropi dia, bahwa, benar, kegembiraan ini akan tercapai lewat memberi dengan hati yang murni.

Referensi:
B. (2019, September 10). Aristotle. Biography. https://www.biography.com/scholar/aristotle
Aristotle (biography) — Astronoo. (2013). Astronoo. http://www.astronoo.com/en/biographies/aristotle.html
Ethics and family philanthropy: Advice from Aristotle – NCFP. (2016c, August 18). National Center for Family Philanthropy. https://www.ncfp.org/2016/08/18/ethics-and-family-philanthropy-aristotle/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hehooo semuanya,

Terima kasih telah mampir di blog www.nisaahani.com. Semoga bermanfaat ya tulisannya. Di tunggu komentarnya. Dan sangat terima kasih kembali jika tidak meninggalkan link atau mengopi tulisan di blog ini tanpa izin. :)